Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 November 2009

Kisah seorang Ricardo Kaka

Dari email.

KAKA: "I belong to Jesus"

Lahir di Brasilia tahun 1982 dengan nama Ricardo Izecson dos Santos Leite, Kaka lahir dari sebuah keluarga penginjil yang kaya raya. Namun hal itu tidak membuat ia menjadi sombong dengan mengandalkan kekayaan keluarganya, ataupun mengikuti jalan hidup keluarganya dengan menjadi penginjil. Kaka punya jalannya sendiri dan caranya sendiri.

Sejak kecil ia sangat menyukai sepakbola, bahkan dalam usia remaja ia menjadi pemain yang cukup terkenal didaerahnya dengan bermain sebagai pemain cadangan di klub San Paulo.

Namun pada usia 18 tahun sebuah bencana terjadi, ia mengalami cidera punggung yang serius saat sedang berenang. Dokter mengatakan ia tidak bisa bermain sepakbola lagi, bahkan kemungkinan besar akan lumpuh akbibat cidera itu. Tidak ada tindakan operasi atau terapi yang bisa menyelamatkannya.

Hidup Kaka hancur berantakan saat itu, kecintaannya pada sepakbola demikian besar, kini semua harus berakhir, bahkan sisa hidupnya harus diisi dengan menjalani kelumpuhannya.

Namun Kaka tahu kemana ia harus minta tolong saat dokter sudah angkat tangan. Kaka bergumul dengan Tuhan, tak putus-putusnya ia berdoa memohon kesembuhannya. Ia bernazar pada Tuhan, bila ia sembuh dan dapat bermain sepakbola lagi, ia akan mempersembahkan seluruh prestasinya itu pada Tuhan Yesus.

Dan keajaibanpun terjadi, setahun setelah kecelakaannya itu tepatnya tahun 2001, Tuhan menyembuhkannya, ia sembuh total dari sakitnya. Bahkan ia dapat merumput bermain sepakbola lagi. Tuhan juga memberikan hadiah bonus, ia tidak lagi menjadi pemain cadangan melainkan menjadi pemain utama dan andalan dalam klubnya.

Tuhan membuat permainan Kaka menjadi begitu hebat sehingga manager tim nasional Brazil terpikat akan permainannya, dan memanggil Kaka untuk mengenakan baju kebesaran tim Brazil, emas dan hijau, dipercaya untuk bertarung di piala dunia 2002.

Dari sekian banyak bakat baru bersinar di Brazil, ia hanyalah seorang pemain muda yang belum setahun membela klubnya, namun sudah dipanggil masuk tim nasional. Bagi Kaka itu adalah keajaiban dan anugerah yang besar baginya.

Walaupun dia hanya jadi pemain cadangan dan duduk dipinggir lapangan menonton pertandingan para seniornya di piala dunia, namun Kaka sudah sangat senang dapat ikut serta dalam kompetisi sebesar piala dunia. Kaka tidak menyadari Tuhan sedang menyediakan keajaiban lainnya bagi dia.

Beberapa pertandingan berjalan begitu keras bagi Brazil, sehingga beberapa pemain bintang harus disimpan karena cidera. Datanglah kesempatan bagi Kaka untuk turun membela timnya. Dibawah pembelaannya Brazilpun menang, peristiwa legendaris yang menggemparkan dunia itupun terjadi, Kaka mengangkat seragam-nya dan di baliknya ada sebuah tulisan yang menggegerkan, kaos putih itu bertuliskan "I Love Jesus".

Itu terus dilakukannya setiap kali teman-temannya merayakan gol. Dan akhirnya Brazil-pun memenangkan Piala Dunia 2002, setelah menaklukan Jerman di final dengan skor 2-0. Dalam parade kemenangan dinegaranya sendiri, kaos kesayangan yang bertuliskan 'I love Jesus' itu tidak pernah dilepasnya. Hal itu menginspirasi banyak pemain Brazil (bahkan pemain negara lain) melakukan hal yang sama.

Saat diwawancara oleh stasiun TV dan ditanya mengapa ia melakukan hal itu, ia berkata, "Saya ingin memperlihatkan dengan hidup dan kerja saya, apa yang telah Tuhan lakukan bagi saya, supaya orang lain dapat melihat apa yang Tuhan bisa lakukan dalam kehidupan mereka."

Permainannya yang cantik di Piala Dunia tidak luput dari perhatian sebuah klub raksasa di Italia, AC Milan. Tidak lama kemudian mereka meminta Kaka masuk dalam timnya sebagai pemain utama. Kaka-pun pindah bergabung dengan AC Milan, masuk dalam liga Italia yang keras dan penuh bintang. Namun dalam musim pertamanya di Liga Italia seri A, ia langsung menyumbangkan gelar juara scudetto bagi AC Milan.

Dalam waktu singkat Kaka menjadi bintang dan pujaan banyak orang khususnya wanita, kegantengannya yang seperti seorang bintang film membuat ia selalu dikejar-kejar fans wanita, dimanapun ia berada akan selalu ada jeritan gadis-gadis muda yang mengaguminya.

Namun cinta dan kesetiannya hanya pada Caroline Celico, kekasihnya yang jauh di Brazil. Walaupun kehidupan pemain sepakbola selalu dikeliling wanita-wanita cantik super model, atau pesta-pesta kemenangan, Kaka selalu menghindari semuanya itu. Ia bahkan tidak mau membawa Caroline tinggal dengannya di Italia sebelum pernikahan, seperti yang dilakukan para pemain bola di liga-liga besar.

Tahun 2005, Kaka meminang Caroline, dalam sebuah upacara perkawinan yang sangat sederhana, sangat berbeda dengan pernikahan selebritis lain yang super mewah. Dalam jumpa pers ia menyatakan bahwa ia masih perjaka dan Caroline masih perawan.

"Itu adalah periode yang penting, sebuah ujian untuk cinta kami berdua. Saya seorang pria normal dan pasti tergoda untuk melakukan hubungan sebelum pernikahan, tapi saya bisa melewatinya. Malam pertama kami juga ditandai darah keperawanan, sebagai tanda cinta suci kami."

Walaupun sebuah isu pindah agama sempat menerpanya diakhir tahun 2006, namun Kaka membuktikan pada mata dunia, bahwa ia adalah murid Kristus sejati dalam final liga Champion Mei 2007. Menjadi pahlawan kemenangan melawan Liverpool, Kaka langsung merayakan golnya dengan membuka kaosnya
dan menunjukan tulisan "I belong to Jesus" kemudian berlutut berdoa bersyukur ditengah lapangan. Teman-temannya yang lain turut merayakannya, tapi mereka mengerti dan tidak mengganggu Kaka yang sedang berdoa. Peristiwa ini ditonton jutaan pemirsa yang menyaksikan final Liga Champion 2007.

Bagi Kaka beserta seluruh pemain dan pendukung AC Milan, kemenangan ini merupakan mujizat. Tidak ada yang menyangka AC Milan akan menang, ditengah kepungan 3 raksasa Inggris yang diunggulkan yaitu Manchester United, Chelsea dan Liverpool.

Kaka menjadi Top Skorer dalam Liga Champion, pertarungan liga paling bergengsi dan tertinggi diseluruh dunia. Membuatnya dinobatkan sebagai raja oleh para media Italia, dan pantas dinobatkan sebagai pemain terbaik didunia. Saat ini Kaka sudah bergabung dengan Real Madrid, salah satu klub bola papan atas Spanyol.

Do you belong to Jesus???
"Segala Perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" [Filipi 4:13]
Selengkapnya... »»

Keripik kentang

Dari sebuah milis.

Seorang anak lelaki ingin bertemu Tuhan.
Dia tahu perjalanannya ke tempat tinggal Tuhan
akan sangat panjang, maka ia mengepak
tasnya dengan sebungkus besar keripik
kentang dan 6 kaleng root-beer sebelum
memulai perjalanannya.

Baru 3 blok, ia bertemu dengan seorang wanita
tua. Wanita ini sedang duduk di bangku taman,
memperhatikan sekelompok burung merpati.
Lalu anak lelaki ini duduk di samping wanita
tersebut dan membuka tasnya. Si anak lelaki
baru saja mau meminum root-beernya ketika ia
melihat wanita tua ini nampak kelaparan, lalu ia
menawarkan keripik kentangnya. Si wanita tua
menerima dengan senang hati dan tersenyum.

Senyumnya begitu menawan sehingga anak
lelaki ini ingin melihatnya lagi, lalu ia
menawarkan root-beernya. Kembali, si wanita
tua itu tersenyum. Anak lelaki itu senang sekali!
Mereka duduk-duduk di taman sepanjang hari
makan, minum dan saling tersenyum, dan tidak
sepatah kata pun terucap.

Ketika senja mulai tiba, si anak lelaki itu baru
menyadari betapa lelahnya ia dan ia beranjak
untuk pulang; tetapi baru beberapa langkah ia
meninggalkan tempat duduknya, ia berbalik,
berlari ke arah wanita tua itu dan
memberikannya sebuah pelukan. Wanita itu
tersenyum lebar. Dan ketika anak lelaki itu tiba
di rumahnya, ibunya terheran-heran dengan
kesukacitaan yang terpancar di wajah anaknya,
lalu bertanya,
"Apa yang kau lakukan hari ini sehingga kau
merasa sangat senang?".
Si anak lelaki menjawab,
"Saya makan siang bersama Tuhan."
Dan sebelum ibunya sempat mengatakan
sesuatu, ia menambahkan,
"Ibu tahu? Ia memiliki senyum yang paling indah
yang pernah saya lihat!"

Sementara itu, si wanita tua juga memiliki wajah
yang bercahaya gembira ketika ia tiba
di rumahnya. Anak lelakinya terkejut dengan
kedamaian yang terpancar dari wajah ibunya
dan bertanya,
"Ibu, apa yang kau lakukan hari ini sehingga
Ibu tampak bersukacita?"
Wanita tua itu menjawab,
"Saya makan keripik kentang di taman bersama
Tuhan."
Dan sebelum anak lelakinya mampu
mengucapkan sesuatu, ia menambahkan,
"Kau tahu, Dia lebih muda dari yang Ibu
bayangkan."

Terlalu sering kita meremehkan kekuatan
sebuah sentuhan, senyuman, kata-kata manis,
telinga yang mendengarkan, pujian yang tulus
atau bahkan tindakan kasih yang terkecil,
yang dapat mengubah hidup seseorang.
Orang-orang hadir di kehidupan kita untuk
sebuah tujuan, selama semusim atau seumur
hidup. Rangkullah mereka semua!

Makan siang bersama Tuhan.... jangan lupa
bawa keripik kentang.
Selengkapnya... »»

Love of a Mother

A Touching Story.

From an email.

Kasih Ibu

Ibuku hanya memiliki satu kaki dan mata. Aku membencinya sungguh memalukan. Ia menjadi juru masak di rumah tetanggaku dan berjualan kue di sekolahku, untuk membiayai keluarga. Suatu hari ketika aku masih SD, ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia lakukan ini? Aku memandangnya dengan penuh kebencian dan melarikan diri. Ibuku terdiam hanya memandang.

Keesokan harinya di sekolah. ”Ibumu hanya punya satu kaki dan satu mata. ?!?!” Iieeeeee, jerit seorang temanku. Aku berharap ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku pada ibu, “Bu, Mengapa Ibu tidak punya satu kaki dan satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatku ditertawakan, lebih baik Ibu mati saja!!!” Ibuku tidak menyahut. Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini. Mungkin karena Ibu tidak menghukumku, tapi aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya sangat terluka karenaku.

Malam itu. Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku
sedang menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya. Ia memandangku sejenak, dan kemudian berlalu dengan kaki pincang. Akibat perkataanku tadi, hatinya tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu kaki dan matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.

Kemudian aku belajar dengan tekun, ibuku terus bekerja membelikanku baju, buku sekolah, membayar uang sekolah. Dan akhirnya aku lulus dan mendapat beasiswa masuk perguruan tinggi. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki anak. Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku.

Kebahagian ini bertambah terus dan terus, ketika ibuku datang ke rumahku. Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku. Dengan terlihat kepanasan di wajahnya, berkeringat dan terengah-engah dengan kaki dan mata satunya. Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat bentuk ibuku yang gak karu-karuan. Kataku, “Siapa kamu?! Aku tak kenal dirimu!!” ”Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku! !” ”KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!” Ibuku hanya menjawab perlahan, “Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat,” dan ia pun berlalu dengan tongkat kakinya. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega.

Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Jakarta. Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana. Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja.

Di sana, kutemukan ibuku tergeletak dilantai yang dingin. Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun. Ada selembar kertas di tangannya. Sepucuk surat untukku. ”Anakku..Kurasa hidupku sudah cukup panjang.. Dan aku tidak akan pergi ke Jakarta lagi. Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sekali ? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah. Demi kau. Dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan keadaan cacat fisiku.

Kau tahu, ketika kau masih dalam kandungan ibu mengalami kecelakaan , ketika ibu masih hamil seseorang telah dengan sengaja menabrak kaki ibu hingga patah. Tetapi untung kandungan ibu selamat, akhirnya ibu melahirkan bayi lucu yaitu kamu, tetapi sayang tuhan hanya memberikan mu satu mata .Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan mata satu. Maka aku berikan mata satuku kepadamu,. Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, ditempatku, dengan mata itu. Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu. Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri, “Itu karena ia mencintaiku” Anakku! Oh, anakku!”

Akupu menangis sekeras dan memeluk ibuku erat-erat meminta maaf, namun sayang ternyata Ibuku sudah beberapa jam lalu meninggal dalam kesendiriannya.

Bersyukurlah atas apa yang Anda miliki sekarang dibandingkan apa yang tidak dimiliki oleh jutaan orang lain! Luangkan waktu untuk mendoakan ibu Anda!

Disadur dari book of my mother.
Selengkapnya... »»

Boneka Untuk Adikku

* jangan pernah dicintai karena uang. Anda tak tahu kapan hari
terakhir anda atau kapan mereka meninggalkan anda.

*Catatan: ini adalah kisah nyata

* Hari terakhir sebelum Natal , aku terburu-buru ke supermarket untuk
membeli hadiah2 yang semula tidak direncanakan untuk dibeli. Ketika
melihat orang banyak, aku mulai mengeluh: "Ini akan makan waktu
selamanya, sedang masih banyak tempat yang harus kutuju" " Natal benar2
semakin menjengkelkan dari tahun ke tahun. Kuharap aku bisa berbaring,
tidur, dan hanya terjaga setelahnya" Walau demikian, aku tetap berjalan
menuju bagian mainan, dan di sana aku mulai mengutuki harga-harga,
berpikir apakah sesudahnya semua anak akan sungguh-sungguh bermain
dengan mainan yang mahal.

* Saat sedang mencari-cari, aku melihat seorang anak laki2 berusia
sekitar 5 tahun, memeluk sebuah boneka. Ia terus membelai rambut boneka
itu dan terlihat sangat sedih. Aku bertanya-tanya untuk siapa boneka
itu. Anak itu mendekati seorang perempuan tua di
dekatnya: 'Nenek, apakah engkau yakin aku tidak punya cukup uang?'
Perempuan tua itu menjawab: 'Kau tahu bahwa kau tidak punya cukup uang
untuk membeli boneka ini, sayang.' Kemudian Perempuan itu meminta anak
itu menunggu di sana sekitar 5 menit sementara ia berkeliling ke tempat
lain. Perempuan itu pergi dengan cepat. Anak laki2 itu masih
menggenggam boneka itu di tangannya.
* Akhirnya, aku mendekati anak itu dan bertanya kepada siapa dia
ingin
memberikan boneka itu.'Ini adalah boneka yang paling disayangi adik
perempuanku dan dia sangat menginginkannya pada Natal ini. Ia yakin
Santa Claus akan membawa boneka ini untuknya' Aku menjawab mungkin
Santa Claus akan membawa boneka untuk adiknya, dan supaya ia jangan
khawatir. Tapi anak laki2 itu menjawab dengan sedih 'Tidak, Santa Claus
tidak dapat membawa boneka ini ke tempat dimana adikku berada saat ini.
Aku harus memberikan boneka ini kepada mama sehingga mama dapat
memberikan kepadanya ketika mama sampai di sana .' Mata anak laki2 itu
begitu sedih ketika mengatakan ini 'Adikku sudah pergi kepada Tuhan.
Papa berkata bahwa mama juga segera pergi menghadap Tuhan, maka kukira
mama dapat membawa boneka ini untuk diberikan kepada adikku.' Jantungku
seakan terhenti.

* Anak laki2 itu memandangku dan berkata: 'Aku minta papa untuk
memberitahu mama agar tidak pergi dulu. Aku meminta papa untuk menunggu
hingga aku pulang dari supermarket.' Kemudian ia menunjukkan fotonya
yang sedang tertawa. Kamudian ia berkata: 'Aku juga ingin mama membawa
foto ini supaya tidak lupa padaku. Aku cinta mama dan kuharap ia tidak
meninggalkan aku tapi papa berkata mama harus pergi bersama adikku.'
Kemudian ia memandang dengan sedih ke boneka itu dengan diam.

* Aku meraih dompetku dengan cepat dan mengambil beberapa catatan dan
berkata kepada anak itu. 'Bagaimana jika kita periksa lagi, kalau2
uangmu cukup?' 'Ok' katanya. 'Kuharap punyaku cukup.' Kutambahkan
uangku pada uangnya tanpa setahunya dan kami mulai menghitung. Ternyata
cukup untuk boneka itu, dan malah sisa. Anak itu berseru: 'Terima Kasih
Tuhan karena memberiku cukup uang' Kemudian ia memandangku dan
menambahkan: 'Kemarin sebelum tidur aku memohon kepada Tuhan untuk
memastikan bahwa aku memiliki cukup uang untuk membeli boneka ini
sehingga mama bisa memberikannya kepada adikku. DIA mendengarkan aku.
Aku juga ingin uangku cukup untuk membeli mawar putih buat mama, tapi
aku tidak berani memohon terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi DIA
memberiku cukup untuk membeli boneka dan mawar putih.' 'Kau tahu,
mamaku suka mawar putih'

* Beberapa menit kemudian, neneknya kembali dan aku berlalu dengan
keretaku. Kuselesaikan belanjaku dengan suasana hati yang sepenuhnya
berbeda dari saat memulainya. Aku tidak dapat menghapus anak itu dari
pikiranku. Kemudian aku ingat artikel di koran lokal 2 hari yang lalu,
yang menyatakan seorang pria mengendarai truk dalam kondisi mabuk dan
menghantam sebuah mobil yang berisi seorang wanita muda dan seorang
gadis kecil. Gadis kecil itu meninggal seketika, dan ibunya dalam
kondisi kritis. Keluarganya harus memutuskan apakah harus mencabut alat
penunjang kehidupan, karena wanita itu tidak akan mampu keluar dari
kondisi koma. Apakah mereka keluarga dari anak laki2 ini?

* 2 hari setelah pertemuan dengan anak kecil itu, kubaca di koran
bahwa wanita muda itu meninggal dunia. Aku tak dapat menghentikan
diriku dan pergi membeli seikat mawar putih dan kemudian pergi ke rumah
duka tempat jenasah dari wanita muda itu diperlihatkan kepada orang2
untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum penguburan. Wanita itu
di sana , dalam peti matinya, menggenggam setangkai mawar putih yang
cantik dengan foto anak laki2 dan boneka itu ditempatkan di atas
dadanya. Kutinggalkan tempat itu dengan menangis, merasa hidupku telah
berubah selamanya. Cinta yang dimiliki anak laki2 itu kepada ibu dan
adiknya, sampai saat ini masih sulit untuk dibayangkan. Dalam sekejap
mata, seorang pria mabuk mengambil semuanya dari anak itu.

* Anda memiliki 2 pilihan
* Kirimkan pesan ini kepada semua orang yang anda kenal
* atau hapuslah dan berpura-pura kisah ini tidak pernah menyentuh
hatimu

* Jika anda kirimkan pesan ini, mungkin anda membantu mencegah
seseorang yang mabuk untuk mengemudi

FRIENDS ARE LIKE ANGELS,
WHO HELP US FLY WHEN OUR WINGS HAVE FORGOTTEN HOW TO FLY
Selengkapnya... »»

Tidak Harus Selalu Bunga

Sebuah Renungan BUAT ISTRI dan CALON ISTRI

Tidak Selalu Harus Berwujud "Bunga"

by: Unknown Female Author

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, harus saya akui, bahwa saya mulai merasa lelah. Alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

"Mengapa?" tanya suami saya dengan terkejut.

"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan" jawab saya.

Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya suami saya bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk mengubah pikiran kamu?"

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan mengubah pikiran saya. Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung. Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."

Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya. Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan coret-coretan tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan...

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baik kamu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal."

"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu khawatir kamu akan menjadi 'aneh'. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami."

"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu."

"Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu."

"Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir menangisi kematian saya."

"Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih daripada saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.

"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu."

"Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia."

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang segelas susu dan roti kesukaan saya.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih daripada dia mencintai saya.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".





Note:
Kado ulang tahun ke-3 pernikahan kami:
Hendry Filcozwei Jan & Linda (2003 2006).
Sudah 3 tahun suka duka kita jalani bersama…

Bandung, Maret 2006

Baca SUMBER
Selengkapnya... »»

Nyanyian Seorang Kakak

Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee , USA . Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya pertama yang baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik.

Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu. Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen; bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.

Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus!
Mami, ... aku mau nyanyi buat adik kecil! Ibunya kurang tanggap.
Mami, ... aku pengen nyanyi! Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya.
Mami, ... aku kepengen nyanyi! Ini berulang kali diminta
Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil.
Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak.
Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya
masih hidup! Ia d ice gat oleh suster didepan pintu kamar ICU. Anak kecil dilarang masuk!. Karen ragu-ragu. Tapi, suster.... suster tak mau tahu; ini peraturan!
Anak kecil dilarang dibawa masuk! Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya: Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi!
Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya! Suster terdiam menatap Michael dan berkata, tapi tidak boleh lebih dari lima menit!.
Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul
maut. Michael menatap lekat adiknya ... lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring
"... You are my sunshine, my only sunshine,
you make me happy when skies are grey ..." Ajaib! si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya.
You never know, dear, How much I love you. Please don't take my sunshine away. Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnya
dengan tajam dan terus, ... terus Michael! teruskan sayang! ... bisik ibunya ... The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands
... dan sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur ... I'll always love you and make you happy, if you will
only stay the same ... Sang adik kelihatan begitu tenang ... sangat tenang.
Lagi sayang! bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan ... adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai ... lalu tertidur
lelap.
Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja
ia saksikan sendiri.
Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu
ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh
amat luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.
Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun membutuhkan mulut
kecil si Michael untuk mengatakan "How much I love you".
Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil "Michael" untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahil
bagiNYA bila IA menghendaki terjadi.

Note:
Kadang hal-hal yang menentukan, dalam diri orang lain ...
Datang dari seseorang yang kita anggap lemah ...
Hadir dari seseorang yang kita tidak pernah perhitungkan ...
Peace & Love

Aku ditimpa kesesakan dan kesusahan, tetapi perintah-perintah-Mu menjadi kesukaanku. (Mazmur 119:143)


SUMBER
Selengkapnya... »»

KARPET KOTOR

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki.
Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik.

Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya.
Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu:

"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan" Ibu itu kemudian menutup matanya.

"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?" Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.

Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak.

Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu".

Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya
"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming). Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang' sudut pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :

Saya BERSYUKUR;
1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan, karena itu artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain

2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV, karena itu artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.

3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal, karena itu artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan

4. Untuk Tagihan Pajak yang cukup besar, karena itu artinya saya bekerja dan digaji tinggi

5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan, karena itu artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman

6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan, karena itu artinya saya cukup makan

7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari, karena itu artinya saya masih mampu bekerja keras

8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah, karena itu artinya masih ada kebebasan berpendapat

9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya, karena itu artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup

SUMBER
Selengkapnya... »»

Galeri Seni Di Surga

Galeri Seni Di Surga

Suatu malam saya bermimpi saya bertemu dengan Tuhan Yesus, dan kami sedang berdiri di depan
museum yang indah di surga.

"Mari kita pergi di dalam," kata Tuhan Yesus. "Saya ingin menunjukkan sesuatu."

Ketika Kami Ke dalam Saya Melihat karya Lukisan Yang Indah Di Sepanjang Tembok, semua Lukisan Tersebut adalah Lukisan yang maha karya. Tuhan Yesus menjelaskan bahwa masing-masing lukisan mewakili satu kehidupan manusia. Setiap lukisan di dalam museum itu dicurahkan dengan perasaan cinta, ketulusan,damai dan semangat. Saya sangat bersukacita dan saya menatap lukisan2x Itu.
Lukisan Itu seperti berpindah ke arah saya dan membuat saya sangat sadar segala kekurangan dalam hidup saya.

Saya bertanya kepada Tuhan Yesus? "Siapa yang bisa melukis Lukisan seindah itu Tuhan ?
Apakah Engkau Tuhan atau malaikat-malaikatmu yang membuat ini? Tentunya Tidak ada
manusia yang dapat membuat karya sebagus itu

Tuhan Yesus tersenyum dan menjawab" Semua Ini adalah Hasil Karya Lukisan yang dibuat
oleh anak-anak Allah."

"Tapi bagaimana?" Saya bertanya. "Itu tidak mungkin Tuhan."

"Dengan pertolongan Tuhan, segala sesuatu adalah mungkin," Jawab Tuhan Yesus.
"orang-orang biasa yang menyerahkan kehendak/diri mereka kepadaKU itulah yang membuat dan menciptakan Lukisan indah itu. setiap orang yang benar-benar menyerahkan dan memberikan hatinya kepadaKU di dalam setiap langkah Kehidupannya, maka kehidupannya akan menjadi sebuah Maha karya Yang Agung. Membanggakan diri, Keegoisan, ketakutan, kerakusan, Keraguan , dan ketidak percayaan itu semua hanya akan merusak lukisan mereka Tetapi orang yang mengasihi Aku dengan segenap Roh, pikiran dan tubuhnya akan mempunyai kehidupan yang indah untuk dilukiskan dan ditampilkan . "

Kami berjalan disekitar galeri itu dan kagum akan semua kehidupan yang digambarkan.
Setelah beberapa saat, Tuhan Yesus mengatakan bahwa sudah semua yang mereka
lihat di ruang itu

Tetapi saya protes, "Sesungguhnya pasti banyak Lukisan Lain untuk dilihat Tuhan.
Karena Apa Yang KAU perlihatkan kepadaku Hanya Beberapa Saja "

Tuhan Yesus berkata, "Ya, ada banyak lagi."

Dia memimpin saya ke belakang museum dan memperlihatkan sebuah gudang yang besar.
Saya Melihat Jutaan Lukisan Yang Ditumpukan di Lantai Saya melihat beberapa dari lukiasn itu dan Saya kecewa. Lukisan itu sangat buruk Ada yang robek, ada yang cacat, dan bahkan masih ada lukisan yang belum selesai sama sekali diletakkan disana.

"Apa ini Tuhan?" Saya bertanya. "Sesungguhnya lukisan - Lukisan ini tidak seharusnya berada di tempat ini?"

"Ya anakku, Mereka Tidak Pantas," kata Tuhan Yesus.
"Karena Untuk masing-masing Lukisan mengambarkan perjalanan kehidupan yang berharga."

"Tetapi Lukisan-Lukisan itu adalah lukisan yang menyedihkan. Sangat Tidak Pantas untuk
Musium Seperti ini, "Saya berpendapat.

"Ya, kamu benar mereka tidak layak," jawab Tuhan Yesus. "Tetapi BapaKU di surga sangat sabar.
Setiap orang hidup memiliki kesempatan untuk menjadi sebuah maha karya yang agung. Semua orang-orang selama mereka hidup, mereka masih bisa melihat kehidupan mereka ditampilkan dalam Galeri Seni Di Surga

"Bagaimana itu mungkin terjadi?" Saya bertanya. "Sesungguhnya tidak mungkin melalui
usaha mereka sendiri."

"Tidak, mereka tidak akan pernah bisa melakukannya sendiri.
Mereka hanya perlu meminta kepadaKU dan AKU akan membantu, "jawab Tuhan Yesus.

Dgn malu-malu saya bertanya, "Apa yang akan terjadi jika mereka tidak pernah meminta?"

Kami berjalan ke gudang yang paling belakang dan Tuhan Yesus membuka pintu. tidak jauh dari pintu itu aku melihat susunan dari lukisan-Lukisan yang ditumpuk dan dibakar secara besar-besaran ,Aku berpaling dan melihat kepada Tuhan Yesus dan aku melihat air mata pada pipiNYA.


"Semua ini adalah mereka yang mencoba dengan kekuatan mereka sendiri. Aktor & atlet, pengusaha dan eksekutor , eksekutif & pendidik, pengajar & politisi, ibu-ibu & para bapak, kaya & miskin, bodoh & bijak - semuanya ada di sini. Selama orang-orang ini terus mencoba dengan kekuatan mereka sendiri
Mereka tidak akan pernah cukup baik. Dan kanvas mereka akan dilemparkan ke dalam api -
dan tidak pernah ke dikagumi. usaha yang sia-sia, "Jawab Tuhan Yesus.

Aku menangis dengan Dia. itu pemandangan yang sangat menyedihkan

Lalu Tuhan Yesus menutup pintu dan kami berjalan kembali ke dalam gudang.

Saya bertanya, "Tuhan Yesus apakah ada harapan bagi saya?"

Tuhan Yesus tersenyum, "Ya! Ikuti saya. "

Kami berjalan ke dalam kamar kecil yang kosong Hanya ada sebuah kanvas yang kosong yang
ditopang oleh penyangga.

"Apa ini?" Saya bertanya.

"Ini adalah Kanvasmu yang akan mengambarkan kehidupanmu setelah disucikan
dan dibersihkan oleh darahKU," kata Tuhan Yesus.

aku terkagum melihat keindahan kanvas tersebut. belum ada satu cacatpun atau
ketidaksempurnaan apapun di kanvas itu. Tuhan Yesus memberikan saya sebuah kuas dan cat.

"Buatlah Lukisan apapun yang kamu inginkan," kata Tuhan Yesus

Aku berdiri di sana selama beberapa menit membayangkan semua hal yang saya bisa lukiskan.
Saya segera menyadari bahwa saya tidak dapat melakukan dan melukis apa-apa yang baik untuk galeri seni di surga

"Tuhan, saya ingin membuat maha karya, tapi saya tidak bisa."

Dengan Perasaan kecewa, saya kembalikan kuas yang diserahkan kepada Tuhan Yesus, tetapi Ia menghentikan aku. lalu DIA melingkarkan tangannya di sekitar kuas yang aku pegang dan Dia membimbing tanganku sambil berkata, "Mari kita kerjakan bersama."

taken from:[url=http://www.christianster.com/ctan/html/showsharing.php?recommend=recommend&sid=66514&m=7& d=14&y=2009&authid=139320]Christian Friends on Christianster[/url]

translate help using:[url=http://translate.google.com/]Google Translate[/url]


SUMBER

Selengkapnya... »»

SAHABATKU, TUHAN

Diambil dari cerita nyata..

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur, Filipina, yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah yang berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja tiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan, sahabatnya.
Tindakannya ini selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

"Bagaimana kabarmu, Andy? Apakah kamu akan ke Sekolah?"

"Ya, Bapa Pendeta!" balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, "Jangan menyebrang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah, kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat."

"Terima kasih, Bapa Pendeta."

"Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?"

"Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan.. sahabatku."

Dan Pendeta tersebut meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri, tetapi pastur tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.

"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanya kue ini.
Terima kasih buat kue ini, Tuhan! Tadi aku melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku jadi tidak begitu lapar.

Lihat ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan.Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa..
paling
tidak aku tetap dapatpergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa dari temanku sudah berhenti sekolah, tolong Bantu mereka supaya bisa bersekolah lagi.
Tolong Tuhan.

Oh, ya..Engkau tahu kalau Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu.
Tuhan, Engkau mau lihat lukaku??? Aku tahu Engkau dapat menyembuhkannya, disini..disini.aku rasa Engkau tahu yang ini kan....??? Tolong jangan marahi ibuku, ya..?? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makan dan biaya sekolahku..itulah mengapa dia memukul aku.

Oh, Tuhan..aku rasa, aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang sangat cantik dikelasku, namanya Anita. menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku??? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku.

Hei.ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira??? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu.
Aku berharap Engkau menyukainya. Oooops..aku harus pergi sekarang."

Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta .

"Bapa Pendeta..Bapa Pendeta..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyebrang jalan sekarang!"

Kegiatan tersebut berlangsung setiaphari, Andy tidak pernah absen sekalipun.

Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan.. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja tersebut diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga mengutuki orang yang menyinggung mereka.

Ketika mereka sedang berdoa, Andypun tiba di Gereja tersebut usai menghadiri pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa "Halo Tuhan..Aku.."

"Kurang ajar kamu, bocah!!!tidakkah kamu lihat kalau kami sedang berdoa???!!! Keluar, kamu!!!!!"

Andy begitu terkejut,"Dimana Bapa Pendeta Agaton..??Seharusnya dia membantuku menyeberangi jalan raya. dia selalu menyuruhku untuk mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus, karena hari ini hari ulang tahunNya, akupun punya hadiah untukNya.."

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja.

"Keluar kamu, bocah!..kamu akan mendapatkannya!!!"

Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyebrangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja. Lalu dia menyeberang, tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang - disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar.dan Andypun tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tidak bernyawa lagi.

Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut, namun dengan penuh airmata dating dan memeluk bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya,"Maaf tuan..apakah anda keluarga dari bocah yang malang ini? Apakah anda mengenalnya?"

Tetapi pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam berkata,"Dia adalah sahabatku." Hanya itulah yang dikatakan.

Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam saku baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah tersebut, kemudian keduanya menghilang. Orang-orang yang ada disekitar tersebut semakin penasaran dan takjub..

Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sangat mengejutkan.

Diapun berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dengan kedua orang tua Andy.

"Bagaimana anda mengetahui putra anda telah meninggal?"

"Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari." Ucap ibu Andy terisak.

"Apa katanya?"

Ayah Andy berkata,"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy, sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy dari wajahnya dan memberikan kecupan dikeningnya, kemudian Dia membisikkan sesuatu.

"Apa yang dikatakan?"

"Dia berkata kepada putraku.." Ujar sang Ayah. "Terima kasih buat kadonya.
Aku akan berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku." Dan sang ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu.aku menangis karena bahagia..aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika dia meninggalkan kami, ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. Aku tidak dapat melukiskan sukacita dalam hatiku. aku tahu, putraku sudah berada di Surga sekarang.
Tapi tolong Bapa Pendeta .. Siapakah pria ini yang selalu bicara dengan putraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu di sana setiap hari, kecuali pada saat putraku meninggal.

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik,"Dia tidak berbicara kepada siapa-siapa... kecuali dengan Tuhan."

Sumber : unknown
Selengkapnya... »»

Dua Penodong dan Satu Alkitab


Dua Penodong dan Satu Alkitab

(Amerika Serikat, pertengahan abad ke-20)

Sam Johnson seorang penjual Alkitab. Penjual Alkitab di Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-20 itu kebanyakan orang kulit putih, tetapi Sam orang kulit hitam. Biasanya ia disambut dengan gembira oleh rakyat berkulit hitam di negara bagian North Carolina, yakni daerah perdagangannya itu.

Kebanyakan orang Negro di daerah pertanian itu agak miskin; jarang mereka sanggup membeli sebuah Alkitab. Itu sebabnya Sam Johnson cukup banyak membawa Kitab Perjanjian Baru, serta Injil-Injil dan kitab-kitab lainnya yang dicetak dan dijilid tersendiri. Bagian-bagian Firman Allah yang harganya lebih murah itu cukup banyak yang laku.

Sam mempunyai sebuah mobil tua yang dipergunakan untuk pergi berkeliling sambil menjual Alkitab. Banyak Alkitab lengkap, Kitab Perjanjian Baru, dan Injil disusun dengan rapi di dalam dos-dos, lalu diletakkan di dalam mobilnya. Sam tidak suka kalau harus sering kembali ke agen grosir untuk menambah persediaan barang cetakan berupa Firman Allah itu.

Mobil Sam itu cukup besar, sehingga dapat juga memuat persediaan makanan. Sering ia pergi berjualan Alkitab ke daerah yang jarang terdapat kedai makanan. Jadi, menjelang tengah hari Sam suka mencari tempat yang sepi, lalu di situ ia makan bekal yang dibawanya sendiri.

Pada suatu hari Sam Johnson sedang menyetir mobilnya di jalan pegunungan yang sunyi. Di mana-mana terdapat hutan dan semak belukar. Jika ia terus menelusuri jalan raya sampai menemui sebuah rumah makan, jam makan siang pasti sudah jauh lewat. Lagi pula, Sam sudah bekerja keras sejak pagi. Ia merasa capai, dan ingin sekali beristirahat.

Itu sebabnya Sam membelokkan mobilnya ke sebuah lorong kecil. Walau lorong itu cukup sempit, Sam terus menelusuri sampai kira-kira tiga kilometer dari jalan raya. Di sana, di tengah-tengah hutan belukar, ia menemukan suatu tempat terbuka. Ternyata di situ rumah petani. Tetapi rumah itu sudah lama musnah, hanya tinggal lubang bekas ruang di bawah tanah yang ditumbuhi alang-alang yang tinggi.

Nah, ini dia, kata Sam kepada dirinya sendiri. Tempat terbuka itu cukup luas sehingga dengan mudah ia dapat memutar mobilnya. Lalu ia mematikan mesin, turun, mengeluarkan bekalnya, dan terus menyantap sampai kenyang.

Seusai makan Sam memperhatikan sebuah batu datar besar yang tergeletak di dekat sebatang pohon, seolah-olah tempat duduk alamiah. Sam duduk di atas batu itu dan menyandarkan punggungnya pada pohon. Beberapa saat kemudian, matanya sudah tertutup dan ia pun tertidur.

Ada suara yang membangunkan dia. Ia membuka matanya. Lalu ia benar-benar siuman. Dua orang asing berdiri di depannya, dan salah seorang di antaranya menodongkan pistolnya ke arah Sam.

"Hei, cepat, kamu, berdiri!"

Sam melompat berdiri. Kedua orang itu bermuka bengis; Sam sama sekali tidak mau membangkitkan amarah mereka.

"Cepat buka dos-dos di dalam mobil itu! Dan jangan bikin gaduh, nanti kamu kontan mati!"

Walaupun salah satu dos itu diikat dengan simpul tali yang kuat, namun Sam membuka semuanya dengan cepat, seolah-olah mau mencapai rekor baru.

Penodong yang kedua mendekati mobil "Kamu ke sana!" perintahnya.

Sam segera meninggalkan mobilnya. Ia sama sekali tidak mau berbantah-bantah dengan kedua orang itu.

Dengan ketat Sam dijaga oleh penodong yang memegang pistol itu. Penodong yang seorang lagi memeriksa muatan di dalam mobil, dos demi dos.

"Kok . . . aneh," kata penodong kedua itu.

"Apa sih isinya?" tanya penodong pertama, kurang sabar.

"Alkitab! Alkitab melulu! Seumur hidup belum pernah kulihat sekian banyak Alkitab!"

"Alkitab!" Penodong pertama membeo dengan nada jengkel. Lalu ia menegur Sam lagi. "Kamu penjual Alkitab?"

"Betul, Tuan," jawab Sam, sangat sopan.
Penodong pertama itu kelihatan bingung. Ia menurunkan pistolnya. "Siapa namamu? Tadinya kami bermaksud membunuhmu."

"Sam Johnson, Tuan", seolah-olah maksud jahatnya itu sudah berubah? Dan pistolnya itu tidak lagi diarahkan ke kepala Sam.

Penodong pertama itu terus berbicara: "Yah, Sam, tadinya kami akan membunuhmu. Tahu, yah, kami baru lolos sehabis yah, sehabis beraksi dan kami mau melarikan diri ke negara bagian Florida. Kami perlu mobil. Kami melihat kamu duduk-duduk santai dibawah pohon, jadi kami bermaksud membunuhmu, mengambil mobilmu, dan terus amblas."

Penodong kedua itu memandang temannya dengan heran. "Kok . . . kenapa sih ngomong terus? Ayo kita berangkat 'aja!"

"Nanti dulu, nanti dulu," kata pemimpin kedua penodong itu. Ia mendekati mobil Sam dan menggapai sebuah Alkitab. "Yah . . . aneh, kamu penjual Alkitab. Bertahun-tahun aku tidak melihat Alkitab."

Ia membuka-buka Alkitab itu. "Ibuku dulu sangat baik, . . ." katanya, seolah-olah sedang melamun. "Ibuku dulu suka membacakan Alkitab kepadaku. Sejak ibuku meninggal, sedikit sekali kupikirkan tentang hal itu."

Penodong kedua itu duduk pada batang pohon yang sedang roboh. Rupaya ia kurang mengerti apa yang sedang terjadi. Tetapi tidak mengapa, perannya dalam "aksi" yang baru saja mereka laksanakan itu sepele saja; sebenarnya ia tidak begitu pusing, apakah mereka berhasil melarikan diri ke tempat yang jauh atau tidak.

Pemimpin kedua penodong itu menyandarkan tubuhnya pada pintu mobil. Sekali lagi ia membolak-balikkan halaman Alkitab. "Yah, aku masih ingat . . .," katanya hampir berbisik.

Hening sejenak . . . . Berkas-berkas matahari yang menembus dahan-dahan pohon pines itu menyinari tempat terbuka bekas halaman rumah petani. Cahaya matahari itu menyentuh Sam yang sedang mengawasi keadaan, . . . menyentuh sebuah pistol yang diletakkan di atas kap mobil, . . . menyentuh seorang penodong yang asyik mengenang kembali cerita-cerita yang pernah digemarinya dulu semasa kecil.

Sam memperhatikan tangan penodong itu mengusap matanya. Ternyata kenangan lama itu telah menitikkan air mata.

Sam berlutut di atas rerumputan. Bila berdoa ia sudah biasa berlutut, dan sekarang ia merasa sudah saatnya untuk berdoa. Dalam hati ia mendoakan orang itu, yang sedang mengenang masa ia menjalani kehidupan yang benar. Siapa tahu, mungkin orang ini masih sempat meninggalkan kejahatannya serta kembali ke jalan yang benar.

Tempat terbuka di tengah-tengah hutan belukar itu menjadi sangat tenang. Lalu pemimpin kedua penodong itu memperhatikan bibir Sam yang sedang bergerak-gerak, mata Sam yang sedang tertutup, lutut Sam yang sedang bertekuk.

"Yah, doakan aku Sam," katanya. Suaranya hampir menjadi halus, lain sekali dengan suaranya semula yang sangat bengis itu. "Aku sungguh perlu didoakan. Dan sesudah kamu mendoakan diriku, ayo masuklah ke dalam mobilmu dan pergilah."

Orang yang kedua itu seolah-olah mau menyela, tetapi pemimpin penodong memberi isyarat supaya ia diam. "Gara-gara kami beraksi tadi, mungkin sekali orang yang berhasil menangkap kami berdua akan mendapat hadiah yang cukup besar," katanya. Ia menelan ludah, seakan-akan belum pasti apa yang harus dikatakan selanjutnya. "Tetapi orang yang berhasil mengikuti pesan Alkitab akan mendapat hadiah lebih besar lagi."

Pemimpin kedua penodong itu tersenyum ke arah Sam Johnson. "Jangan khawatir, Sam," katanya. "Kamu tidak akan melihat aku menodong lagi. Lihat!" Ia melemparkan pistolnya ke dalam lubang besar yang dulu bekas ruang di bawah tanah dari rumah petani. "Sebaiknya kamu pergi sekarang, Sam. Dan jangan lupa, terus berdoa untuk kami. Siapa tahu, mungkin kami berdua akan kembali menjadi orang yang berguna!"

Sam segera mendekati mobilnya dan duduk di belakang setir. Ia menghidupkan mesin. Pelan-pelan ia menyetir mobilnya sehingga kembali menghadap ke jalan raya. Tetapi sebelum memasukkan persneling, ia pun menoleh ke belakang, ke arah kedua penodong tadi.

Kini kedua-duanya duduk di atas batang pohon yang sudah roboh. Pemimpin kedua penodong itu sedang membacakan Alkitab kepada teman-temannya. Suaranya jelas terdengar melalui udara siang yang panas itu; ia sedang membaca Kitab Yesaya, pasal 55:

"Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! . . .
Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; Dengarkanlah, maka kamu akan hidup!"

Sam Johnson menganggukkan kepalanya pada saat mobilnya mulai bergerak meluncur di lorong yang sepi itu. "Mereka akan kembali ke jalan yang benar. Mereka akan menjadi orang-orang yang berguna." Entah mengapa, . . . Sam merasa yakin betul atas firasatnya itu.

Dengan lemah lembut Sam Johnson menyanyikan sebuah lagu rohani kuno pada saat ia kembali ke jalan raya untuk meneruskan perjalanannya.

Sumber : www.tanpatembok.com
Selengkapnya... »»

The Passion of JC


THE PASSION OF JIM CAVIEZEL

Jim Caviezel adalah aktor Hollywood yang memerankan Tuhan Yesus dalam Film “The Passion Of Jesus Christ”. Berikut refleksi atas perannya di film itu.

JIM CAVIEZEL ADALAH SEORANG AKTOR BIASA DENGAN PERAN2 KECIL DALAM FILM2 YANG JUGA TIDAK BESAR. PERAN TERBAIK YANG PERNAH DIMILIKINYA (SEBELUM THE PASSION) ADALAH SEBUAH FILM PERANG YANG BERJUDUL “ THE THIN RED LINE”. ITUPUN HANYA SALAH SATU PERAN DARI BEGITU BANYAK AKTOR BESAR YANG BERPERAN DALAM FILM KOLOSAL ITU.

Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.

“Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda.

Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, “Hallo ini, Mel”. Kata suara dari telpon tersebut. “Mel siapa?”, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu actor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya.

Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film2 lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.

Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di Hollywood.

Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood . Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. “Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?” Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di “Thin Red Line”. Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini!

Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda.

Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya.

Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya.

Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting.

Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya.

Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga.

Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis.

Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya.

Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan.

Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya.

Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya.

Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri.

Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak “dia sadar! dia sadar!” (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi disini).

“Apa yang telah terjadi?” Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu.

Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan”? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian.

Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri.

Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan.

Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini.

Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa.

Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.

“TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA”

Dari sebuah milis.
Selengkapnya... »»

Grandpa's Hand

Grandpa, some ninety plus years, sat feebly on the patio bench. He didn't move, just sat with his head down staring at his hands.

When I sat down beside him he didn't acknowledge my presence and the longer I sat I wondered if he was OK.

Finally, not really wanting to disturb him but wanting to check on him at the same time, I asked him if he was OK.

He raised his head and looked at me and smiled. "Yes, I'm fine, thank you for asking," he said in a clear strong voice.

"I didn't mean to disturb you, Grandpa, but you were just sitting here staring at your hands and I wanted to make sure you were OK," I explained to him. "Have you ever looked at your hands," he asked. "I mean really looked at
your hands? I slowly opened my hands and stared down at them. I turned them over, palms up and then palms down.

No, I guess I had never really looked at my hands as I tried to figure out the point he was making.

Grandpa smiled and related this story:
"Stop and think for a moment about the hands you have how they have served you well throughout your years.

These hands, though wrinkled, shriveled and weak have been the tools I have used all my life to reach out and grab and embrace life.

They braced and caught my fall when as a toddler I crashed upon the floor.
They put food in my mouth and clothes on my back.

As a child my Mother taught me to fold them in prayer.
They tied my shoes and pulled on my boots.

They have been dirty, scraped and raw, swollen and bent.

They were uneasy and clumsy when I tried to hold my newborn son.

Decorated with my wedding band they showed the world that I was married and loved someone special.

They wrote the letters home and trembled and shook when I buried my Parents and Spouse and walked my Daughter down the aisle.

Yet, they were strong and sure when I dug my buddy out of a foxhole
and lifted a plow off of my best friend's foot.

They have held children, consoled neighbors,
and shook in fists of anger when I didn't understand.

They have covered my face, combed my hair, and washed and cleansed the rest of my body.

They have been sticky and wet, bent and broken, dried and raw.

And to this day when not much of anything else of me works real well
these hands hold me up, lay me down, and again continue to fold in prayer.

These hands are the mark of where I've been and the ruggedness of my life.

But more importantly it will be these hands that God will reach out and take when he leads me home.

And with my hands He will lift me to His side and there I will use these hands to touch the face of Christ ."

I will never look at my hands the same again. But I remember God reached
out and took my Grandpa's hands and led him home.

When my hands are hurt or sore or when I stroke the face of my children
and wife, I think of Grandpa. I know he has been stroked and caressed and
held by the hands of God. I, too, want to touch the face of God and feel
His hands upon my face.

Poem written by Melinda Clements @ 2004

When you receive this, say a prayer for the person who sent it to you, and watch God's answer to prayer work in your life. Let's continue praying for one another.
Passing this on to anyone you consider a friend will bless you both.
Passing this on to one not yet considered a friend is something Christ would do.
Selengkapnya... »»

The Three Trees

A common story ...

The Three Trees

Once upon a mountain top, three little trees stood and dreamed of what they wanted to become when they grew up. The first little tree looked up at the stars and said: " I want to hold treasure. I want to be covered with gold and filled with precious stones. I'll be the most beautiful treasure chest in the world!" The second little tree looked out at the small stream trickling by on it's way to the ocean. " I want to be traveling mighty waters and carrying powerful kings. I'll be the strongest ship in the world! The third little tree looked down into the valley below where busy men and women worked in a busy town. I don't want to leave the mountain top at all. I want to grow so tall that when people stop to look at me they'll raise their eyes to heaven and think of God. I will be the tallest tree in the world.

Years, passed. The rain came, the sun shone and the little trees grew tall. One day three wood cutters climbed the mountain. The first wood cutter looked at the first tree and said, "This tree is beautiful. It is perfect for me." With a swoop of his shining ax, the first tree fell. "Now I shall make a beautiful chest, I shall hold wonderful treasure!" the first tree said.

The second wood cutter looked at the second tree and said, "This tree is strong. It's perfect for me." With a swoop of his shining ax, the second tree fell. "Now I shall sail mighty waters!" thought the second tree. " I shall be a strong ship for mighty kings!"

The third tree felt her heart sink when the last wood cutter looked her way. She stood straight and tall and pointed bravely to heaven. But the wood cutter never even looked up. "Any kind of tree will do for me." He muttered. With a swoop of his shining ax, the third tree fell.

The first tree rejoiced when the wood cutter brought her to a carpenter's shop. But the carpenter fashioned the tree into a feed box for animals. The once beautiful tree was not covered with gold, or treasure. She was coated with saw dust and filled with hay for hungry farm animals. The second tree smiled when the wood cutter took her to a shipyard, but no mighty sailing ship was made that day. Instead the once strong tree was hammered and awed into a simple fishing boat. She was too small and too weak to sail to an ocean, or even a river, instead she was taken to a little lake. The third tree was confused when the wood cutter cut her into strong beams and left her in a lumberyard. "What happened?" The once tall tree wondered. " All I ever wanted was to stay on the mountain top and point to God..."

Many days and nights passed. The three trees nearly forgot their dreams. But one night, golden starlight poured over the first tree as a young woman placed her newborn baby in the feed box. "I wish I could make a cradle for him." Her husband whispered. The mother squeezed his hand and smiled as the starlight shone on the smooth and sturdy wood. " This manger is beautiful." She said. And suddenly the first tree knew he was holding the greatest treasure in the world.

One evening a tired traveler and his friends crowded into the old fishing boat. The traveler fell asleep as the second tree quietly sailed out into the lake. Soon a thundering and a thrashing storm arose. The little tree shuddered. She new she did not have the strength to carry so many passengers safely through the wind and the rain. The tired man awoke. He stood up, stretched out his hand, and said, "Peace." The storm stopped as quickly as it had begun. And suddenly the second tree knew he was carrying the king of heaven and earth.

One Friday morning, the third tree was startled when her beams were yanked from the forgotten wood pile. She flinched as she was carried through an angry jeering crowd. She shuddered when soldiers nailed a man's hand to her. She felt ugly and harsh and cruel. But on Sunday morning, when the sun rose and the earth trembled with joy beneath her, the third tree knew that God's love had changed everything. It had made the third tree strong. And every time people thought of the third tree, they would think of God. That was better than being the tallest tree in the world.

The next time you feel down because you didn't get what you wanted, sit tight and be happy because God is thinking of something better to give you.

word4life
Selengkapnya... »»

Unconditional Love

Kisah Inspiratif untuk PARA SUAMI dan CALON SUAMI.

Unconditional Love

Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.

Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen membuatku semakin kesal!

Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.

Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. "Ia sungguh cantik" kataku dalam hati, "Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik". Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya.

Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

14 Februari 1996.
Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku.

Hmm. aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.

6 September 2001
Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan wanita lain sambil tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar Vincent tidak pindah ke lain hati.

Jantungku serasa mau berhenti...

23 Oktober 2001
Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui.

Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat dekat denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai 5 tahun. Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan hubunganku dengan Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya selama 4 bulan, dan memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku sungguh tak menduga kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan Melly.

4 Januari 2002
Aku dihampiri wanita bernama Melly, Ia menghinaku dan mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku kekuatan yang berasal daripadaMu.

Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah menghianatinya. Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya. Nafasku sesak,tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat itu.

14 Februari 2002
Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6. Tuhan apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang harus kuambil.

14 Februari 2003
Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi Nyonya Alexander Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!

18 Juli 2005
Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku.

7 April 2006
Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Vincent agar ia tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur di sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah.

Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia membelikannya dengan susah payah.

15 November 2007
Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal untuk Vincent.

Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga.

Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat. Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen
dan ia terbangun. "Maafkan aku Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun."

------------ --------- ------

Jika manusia bisa mencintai pasangannya tanpa syarat.

Bayangkan, bagaimana besarnya cinta Tuhan kepada kita yang adalah ciptaanNya. anakNya. sahabatNya. saudaraNya. sehingga Ia memberikan AnakNya yang kekasih untuk mati di kayu salib
bagi kita.


source: BKM - Buletin Komunitas Mudika Edisi Oktober 2008
Selengkapnya... »»

KISAH SEBUAH TAPLAK MEJA

Dari sebuah milis.

KISAH SEBUAH TAPLAK MEJA

This is a very beautiful story ...

Ini adalah cerita yang indah... yang akan membuatmu mengerti bahwa segala sesuatu terjadi untuk suatu alasan.

Seorang pendeta muda dan istrinya ditugaskan untuk membuka kembali sebuah gereja tua di daerah
pinggiran Brooklyn. Mereka tiba di daerah tersebut pada bulan Oktober dengan penuh semangat.
Ketika mereka melihat gereja tersebut, terlihatlah sebuah gereja yang sangat berantakan dan
membutuhkan banyak kerja keras. Mereka membuat target bahwa semua harus selesai diperbaiki dan siap digunakan untuk ibadah malam natal.

Mereka berdua bekerja keras, memperbaiki atap, memplester dinding, mengecatnya, dan segala hal lain
untuk membuat gereja tersebut dapat digunakan beribadah. Pada tanggal 18 Desember, gereja tersebut
sudah hampir selesai dan akan segera siap untuk digunakan. Pada tanggal 19 Desember, hujan yang
disertai angin kencang turun selama dua hari. Pada tanggal 21 Desember, pendeta tersebut segera
berangkat menuju gereja. Setibanya disana, hatinya sesak dan pedih melihat hasil kerjanya yang
hancur. Dia melihat kerusakan terbesarnya adalah atap yang jatuh dan mengakibatkan kerusakan pada
dinding gereja. Pendeta tersebut membereskan kekacauan di lantai dan tidak tahu apa yang harus
dilakukan selain menunda ibadah malam natal. Ia pun meninggalkan gereja menuju rumah.

Di perjalanan pulang, dia melihat sebuah bazar untuk amal, jadi ia turun dari mobilnya untuk singgah dan
melihat-lihat. Kemudian ia melihat sebuah taplak meja buatan tangan yang sangat indah dan ukurannya pas untuk menutupi kerusakan di gereja. Maka ia pun membeli taplak meja tersebut. Ia pun membeli taplak meja tersebut dan membawa mobilnya kembali ke gereja. Ketika tiba di depan gereja, ia melihat seorang wanita paruh baya yang sedang mengejar bus dan gagal! Salju mulai turun. Sang pendeta turun dari mobilnya dan mengajak wanita tersebut untuk masuk ke gereja untuk menunggu bus berikutnya yang akan datang 45 menit kemudian.

Wanita tersebut duduk, dan pendeta sibuk memasang taplak meja tersebut. Ketika selesai, wanita tersebut bertanya di manakah pendeta menemukan taplak meja tersebut.. Wanita tersebut kemudian bertanya apakah di ujung kanan ada inisial EBG, ternyata memang ada. Wanita tersebut bercerita
bahwa ia membuat taplak itu 35 tahun yang lalu di Austria. Wanita tersebut kemudian menceritakan
bahwa sebelum perang, ia dan suaminya memiliki keluarga yang bahagia. Kemudian Nazi datang dan
suaminya memaksanya pergi. Sang suami berencana untuk menyusulnya seminggu kemudian,
namun ternyata tertangkap. Dan mereka tidak pernah bertemu kembali.

Sang pendeta hendak mengembalikan taplak meja tersebut, mengingat besarnya kenangan yang dimiliki
taplak meja tersebut. Namun wanita tersebut menolaknya. Sebagai rasa terima kasih,
pendeta tersebut menawarkan untuk mengantarkan wanita tersebut ke apartemennya.

Tibalah hari Natal. Ibadahnya indah, semua penuh dengan semangat Natal. Pada akhir ibadah,
pendeta dan istrinya menyalami semua yang datang, dan mendengar banyak dari mereka akan datang
kembali ke gereja tersebut. Kemudian sang pendeta melihat seorang pria tua yang tetap duduk dan
memandangi taplak meja tersebut.

Sang pendeta mendekatinya, pria tua menanyakan di mana pendeta mendapatkan taplak tersebut.
Ia menceritakan kisah yang sama dengan yang telah didengar pendeta beberapa hari sebelumnya.
Pendeta kemudian berkata ia ingin mengajak pria tersebut sedikit berjalan-jalan. Ia mengemudikan
mobilnya menuju apartemen yang didatanginya beberapa hari sebelumnya. Ia membantu pria tersebut
menaiki tangga menuju lantai tiga dan pendeta mengetuk sebuah pintu.. Kemudia pendeta tersebut
menyaksikan sebuah reuni Natal terbaik yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.

Kisah Nyata - by Pastor Rob Reid
Selengkapnya... »»

*menari di tengah hujan*

Dari sebuah milis.
Mudah-mudahan Kisah Inspirasi ini dapat memberikan sesuatu pandangan tentang arti cinta.

*menari di tengah hujan*

Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria
berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di
ibu-jarinya. . Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya
menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru
dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.

Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah,
sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Aku merasa
kasihan. Jadi ketika sedang luang aku sempatkan untuk
memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering,
tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan
yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter,
aku putuskan untuk melakukannya sendiri..

Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya
janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu
menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untu makan siang
bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia
menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak
beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.

Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang
terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi
dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Aku sangat
terkejut dan berkata, “Dan Bapak masih pergi ke sana se tia
p hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?” Dia tersenyum
ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata, “Dia
memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia,
‘kan?”

Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tanganku
masih tetap merinding, “Cinta kasih seperti itulah yang aku
mau dalam hdupku.”

*Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis.
Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat
ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak
akan pernah terjadi.*

Bagiku pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting:

*Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala
sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik
dengan apa yang mereka miliki. “Hidup bukanlah perjuangan
menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di tengah
hujan.” *

Penulis : tidak diketahui.
Selengkapnya... »»

DUA KARUNG BERAS

Dari sebuah milis.

DUA KARUNG BERAS

Dua bersaudara bekerja bersama-sama di ladang milik keluarga mereka. Yang seorang telah menikah dan
memiliki sebuah keluarga besar. Yang lainnya masih lajang. Ketika hari mulai senja, kedua bersaudara itu
membagi sama rata hasil yang mereka peroleh.

Pada suatu hari, saudara yang masih lajang itu berpikir,"Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit."Karena itu, setiap malam ia mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di lumbung milik saudaranya.

Sementara itu, saudara yang telah menikah itu berpikir dalam hatinya,"Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku punya istri dan anak-anak yang akan merawatku di masa tua nanti, sedangkan saudaraku tidak memiliki siapa pun dan tidak seorang pun akan peduli padanya pada masa tuanya." Karena itu, setiap malam ia pun mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di lumbung milik saudara satu-satunya itu.

Selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu menyimpan rahasia itu masing-masing, sementara padi mereka sesungguhnya tidak pernah berkurang, hingga suatu malam keduanya bertemu, dan barulah saat itu mereka tahu apa yang telah terjadi. Mereka pun berpelukan.

Jangan biarkan persaudaraan rusak karena harta, justru pereratlah persaudaraan tanpa memusingkan harta.

Penulis : tidak diketahui
Selengkapnya... »»

APAKAH ANDA SEDANG TERJATUH...???

Lagi, Kisah inspirasi dari sebuah milis, yang mengingatkan kita betapa Tuhan bekerja dalam segala perkara untuk kebaikan.

APAKAH ANDA SEDANG TERJATUH...???

Dr. Lin Ting Tung adalah orang Taiwan pertama yang menjadi dokter dan menjadi kristen. Ini terjadi pada akhir abad ke-19. Ia bekerja di rumah sakit kecil yang dirintis oleh Dr. Maxwell, seorang misionaris Inggris.

Ketika itu tingkat kesehatan masyarakat di Taiwan sangat rendah dan cara pengobatan masih sangat sederhana. Pada suatu hari seorang anak datang ke rumah sakit itu dan meminta obat untuk ibunya yang sedang demam akibat malaria. Anak ini berjalan lebih dari dua jam dari desanya ke rumah sakit melalui jalan setapak melewati hutan dan sawah. Ketika nama ibunya dipanggil, anak ini langsung bangkit dari bangkunya, meraih botol obat dan bergegas pulang.

Sore harinya pukul lima, ketika kamar obat akan ditutup, seorang perawat tampak bingung dan berbisik, "Dokter Lin, botol obat untuk pasien malaria masih ada disini. Tetapi ada satu botol yang hilang. Isinya disinfektan.

Dr. Lin terkejut, diperiksanya botol yang tertinggal, benar isinya obat malaria. Jadi, anak tadi membawa botol yang salah! Botol-botol dikamar obat itu memang berbentuk sama dan berwarna sama lagipula, baik obat malaria maupun disinfektan sama-sama cairan. "Celaka kita. Ibu itu
bisa mati. Disinfektan itu obat keras pembunuh kuman untuk kamar operasi. Kalau sampai diminum, usus bisa terbakar dan orang itu akan mati" ujar Dr. Lin dengan wajah pucat.

Segera mereka melaporkan peristiwa ini kepada Dr. Maxwell. Ia juga terkejut. "Sekarang pukul lima, anak itu pergi dari sini pukul tiga jadi Ia sudah hampir tiba. Tidak mungkin kita mengejarnya. Kita tidak tahu jalan ke desa itu" ujar Dr. Maxwell.

Dr. Maxwell termenung. lalu ia berkata, "Mulai hari ini semua obat keras tidak boleh diletakkan diatas meja. Sekarang panggil semua karyawan untuk berkumpul. Kita akan berdo'a,"

Begitulah semua orang yang bekerja di rumah sakit itu berkumpul dan berdo'a. Dr. maxwell berdo'a, "Tuhan, telah kami membuat kecerobohan. Ampunilah kami. Nyawa seorang ibu sedang terancam. Tolonglah dia, cegahlah dia agar tidak meminum obat yang salah itu......"

Malam harinya Dr. Lin berdinas malam. Ia harus bertanggung jawab atas kematian ibu ini. Esok harinya, ketika masih subuh pintu diketuk. Ternyata itu anak yang kemarin membawa botol yang keliru. Mukanya pucat ketakutan. Dr. Lin juga takut. Kedua orang itu berdiri saling memandang dengan gugup.

Kemudian anak itu berkata, "Ma'af dokter. Kemarin saya bawa botol itu sambil berlari, lalu saya jatuh botol itu pecah dan isinya tumpah".

Dr. Lin yang masih terpaku karena gugup langsung bertanya, " Kapan Jatuhnya?"
Anak itu menjadi makin ketakutan, "Ma'af, dokter. Saya baru datang sekarang. Jatuhnya kemarin sore, menjelang gelap,"

Dr. Lin langsung ingat: Menjelang gelap....itu adalah saat ketika semua karyawan rumah sakit berkumpul mendo'akan ibu anak ini! Jiwa ibu anak ini tertolong, isi botol yang salah itu tidak sampai terminum, karena botol itu pecah ditengah jalan.

Kita bisa lihat peristiwa ini dari sudut si anak. Ia pulang membawa botol obat ini sambil berlari. Ia ingin cepat-cepat memberikan obat ini kepada ibunya. Ia ingin menunjukan baktinya kepada ibunya. Ia ingin ibunya cepat sembuh. Anak ini tidak mengetahui bahwa botol yang sedang dipegangnya berisi racun. Ia tidak bisa membaca tulisan dibotol itu. Ia buta huruf Anak ini berlari terus. Jalan dari desa ke rumah sakit di kota sangat jauh. Perginya dua jam, pulangnya dua jam. Ia letih. Lalu, tiba-tiba ia tersandung. Ia jatuh. Mungkin Ia terluka, tetapi yang paling celaka: Botolnya jatuh dan pecah, cairan isinya tumpah ditanah. Bayangkan bagaimana perasaan anak itu. Ia kecewa, sedih dan takut. Bagaimana kalau penyakit ibunya makin parah.

Bagaimana kalau dokter itu marah? Anak ini sangat terpukul oleh kejatuhan ini. Saat itu ia belum tahu bahwa justru terjatuhnya dia ini menolong nyawa ibunya. Mungkin orang lain akan tersenyum, "Ah, itu cuma kebetulan," namun orang percaya akan bersaksi, " Tuhan bisa bekerja melalui sebuah kebetulan," itulah juga kesaksian Rasul Paulus di Roma 8:28 ....Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia......."

"SEGALA SESUATU"
berarti segala keadaan atau segala kejadian, baik keberhasilan maupun kejatuhan.
Kejatuhan dapat berbentuk musibah, penyakit atau kegagalan.Seringkali kita mengira bahwa Allah hanya hadir dan bekerja dalam keberhasilan. Padahal Allah juga hadir dan bekerja dalam kejatuhan. Apa tujuan Allah bekerja dalam kejatuhan? Paulus menjawab, ".....untuk mendatangkan kebaikan.... .."

Jadi Tuhan dapat mendatangkan kebaikan melalui sebuah kejatuhan.

Copied by: Capt. Shadrach M. Nababan
Selengkapnya... »»

TUHAN YESUS, INI OWE, A CONG....

Kisah inspirasi ini dari email sebuah milis. Lucu, polos, tetapi berarti. Buat yang tahu sumber / penulis aslinya silakan memberitahukannya kepada kami lewat komentar.

TUHAN YESUS, INI OWE, A CONG....

Ini sebuah kisah nyata yang menarik dan menyentuh.

Ada seorang laki2 paruh baya, umur 50 tahunan. Ia dipanggil A Cong. Miskin harta, tetapi jujur dan tekun. Kejujuran dan ketekunan itu mendapat perhatian seorang pemilik toko material di daerah Glodok, Pinangsia, Jakarta. A Cong diangkat menjadi CEO (chief exec.officer) atau penanggungjawab penuh toko tersebut. Usaha material itu meraup sukses luar biasa.

Sedemikian sibuknya A Cong di toko itu melayani pembeli, sampai ia tak sempat makan dengan teratur. Bahkan tidak jarang ia makan sambil tetap melayani.

Tetapi, di tengah kesibukannya, setiap jam 12 siang ia menyempatkan diri berlari ke sebuah Gereja di dekat situ. Dan itu ia lakukan tiap hari, sudah lebih dari tiga setengah tahun.

Sampai pada suatu hari kecurigaan seorang pastor memuncak... ! Ia telah memperhatikan dan mengamati fenomena aneh ini di Gerejanya. A Cong datang di pintu Gereja, hanya berdiri saja, membuat tanda salib, lalu segera bablas lagi.

Ritual itu setia dilakukan A Cong, tiap-tiap hari, itu-itu saja. Adakah udang dibalik batu??? Jangan2 ..... Romo yang penasaran itu mencari kesempatan menghadang si A Cong, dan bertanya tanpa basa-basi lagi : Maaf, Cek (panggilan menghormat bagi laki2 Tionghoa), kenapa Encek saben hari datang jam 12 begini, cuman berdiri aja di pintu, bikin tanda salib, terus cepet2 pergi?" Kaget, si A Cong menjawab tersipu: "Hah?!... Lomo, owe ini olang sibuk, owe punya waktu seliki, tapi owe seneng dateng kemali."

Jelas, Romo belum puas dan terus mendesak: Emangnya apa yang Encek lakukan di pintu gereja gitu?"
Jawab A Cong dengan polos: "Ngga ada apa2. Benel Owe cuman bilang ini doang: Tuhan Yesus, ini owe, A Cong. Uuudah ."

Terbengong, hanya "Oh....!" yang bisa dilontarkan sang Romo. Dan A Cong pun bergegas kembali ke tokonya.

Pada suatu hari A Cong sakit parah karena super sibuk dan makan sekenanya, tidak teratur. Komplikasi penyakitnya cukup berat sehingga ia dilarikan ke rumah sakit. A Cong bukan orang kaya, maka ia menempati kamar kelas 3, satu kamar dihuni 8 orang pasien.

Sejak masuknya A Cong, kamar itu menjadi ceria, penuh canda tawa.Tak terasa 3 bulan sudah A Cong dirawat. Ia pun sembuh dan diperbolehkan pulang. Ia gembira, tentunya, tetapi teman2 sekamarnya bersedih. Selama dirawat itu, semua sesama pasien dihiburnya. A Cong setiap pagi menghampiri teman2
pasiennya, satu per satu, dan menanyakan keadaan masing2. Sayang, sekarang A Cong harus pulang dan kamar itu akan kembali sunyi.

Akhirnya salah seorang sesama pasien mencoba bertanya: "Eh, Cek A Cong, mau nanya nih. Kenapa sih Encek begitu gembira, dan selalu gembira, padahal penyakit Encek ' kan serius?" Acong tercenung dan menjawab" saben ali yam lua welas, yah, ada olang laki lambut gondlong dateng, megang kaki owe, dia
bilang: A Cong, ini aku, Yesus Kristus. Gimana owe nggak seneng, coba..."

Moral of the story :
Sesibuk-sibuknya kita, sisihkan waktumu, untuk selalu bersama Tuhan Yesus, ...
Matius 10:32 "Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga".
Selengkapnya... »»