Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 November 2009

Derajat Kepedasan Cabai

Wilbur Scoville (1865-1942), Mengukur Tingkat Kepedasan Cabai

LIDAH memang mampu mengecap rasa pedasnya cabai. Lidah juga bisa membedakan jenis cabai mana yang pedas, lebih pedas, dan paling pedas. Namun, alat indra yang satu ini masih belum mampu mengukur skala atau tingkat kepedasan cabai. Dalam urusan mengukur tingkat kepedasan, kita patut berterima kasih kepada seorang ilmuwan bernama Wilbur Lincolin Scoville (1865-1942).

Wilbur Lincoln Scoville adalah seorang ahli farmasi AS dan dikenal atas hasil ciptaannya berupa The Scoville Organoleptic Test atau tes organoleptik Scoville yang sekarang menjadi standar sebagai skala Scoville. Ia melakukan tes dan menentukan skala tersebut pada tahun 1912 untuk mengukur kepedasan atau tingkat kepanasan dari berbagai jenis cabai.

Wilbur bekerja sebagai ahli di perusahaan farmasi Parke Davis yang berbasis di Detroit, AS dan didirikan pada 1866. Pada tahun 1902, perusahaan itu membangun laboratorium riset farmasi terbesar di dunia dan mempekerjakan sejumlah ilmuwan yang punya obsesi membantu memikirkan sesuatu yang menyenangkan, seperti mengembangkan narkotika. Salah satu ilmuwan yang tergabung di Parke Davis adalah Wilbur L. Scoville.

Scoville bekerja di Parke Davis sepanjang musim-musim penting, seperti ketika mereka memasarkan beberapa jenis kokain halus dan ekstrak ganja. Pada saat yang sama, kompetitor besar mereka, yakni Bayer, perusahaan asal Jerman, berhasil mengembangkan produk unggulan berupa sirup obat batuk yang mengandung heroin (sampai sekarang Bayer dikenal sebagai salah satu produsen obat batuk terbesar di dunia). Sementara itu, kompetitor lainnya yakni Merck memproduksi kokain dalam jumlah besar.

Persaingan terjadi bukan hanya antarperusahaan, tetapi di antara para ilmuwan juga terlibat perang gengsi. Sebagai ilmuwan yang diandalkan Parke Davis (AS), Scoville mendapat tantangan menghasilkan produk penting yang bisa jadi unggulan perusahaan, khususnya dalam bersaing dengan produk Bayer dan Merck. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Scoville selain mengatakan ya dan menerima tantangan tersebut. Ia beranggapan, inilah saat yang tepat dan sempurna bagi orang-orang penting untuk menggunakan kapsaisin (capsaicin, senyawa yang menjadi biang rasa pedas pada cabai) sebagai penawar rasa sakit dan kemudian ia mempertanyakan kepada perusahaan tentang hal itu.

Gayung pun bersambut, manajemen Parke Davis menerima proposal Wilbur L. Scoville. Pada 1912 Scoville mengembangkan metode tes organoloptik Scoville (Scoville Organoloptic Test) untuk mengukur intensitas kepedasan rasa cabai. Tes dilakukan untuk mengukur berapa banyak unsur-unsur pedas yang bisa dilemahkan di dalam air gula sebelum kepedasannya hilang sama sekali atau tak lagi terasa.

Kandungan utama capsaicinoid, yakni capsaicin, yang begitu panas dengan satu tetesan dilarutkan dalam 100.000 tetes air akan menghasilkan rasa yang sangat panas pada lidah. Kandungan capsaicinoid diukur dalam parts per million (ppm) atau bagian per sejuta yang kemudian dikonversi ke dalam Scoville Heat Unit (SHU) atau unit panas Scoville, pada ukuran ini satu ppm ekuivalen dengan 15 juta unit Scoville.

Unit Scoville diperoleh dari serangkaian tes menggunakan larutan air dan gula. Pengenceran ditingkatkan sampai cabai tidak lagi membakar mulut. Sebagai contoh, Blair`s After Death Sauce terukur pada 50.000 unit Scoville. Untuk mengencerkan panas atau pedas dalam satu botol saus Blair`s After Death, dibutuhkan lebih dari 3.000 unit air sehingga rasa panas/pedas yang ada tidak terasa lagi alias netral.

Awalnya penilaian Scoville didasarkan respons manusia terhadap perkembangan pelemahan rasa pedas/panas, tetapi belakangan aplikasinya menggunakan mesin untuk mengukur langsung jumlah capsaicinoid, unsur kimia yang bertanggung jawab atas terjadinya sensani panas/pedas. Cabai lonceng (bell peppers) dianggap memiliki tingkatan nol pada skala Scoville karena tidak memiliki rasa pedas. Sedangkan cabai habanero menempati rating 300.000. Capsaicin murni tingkatannya paling tinggi, yakni 16 juta unit Scoville.

Pada tahun 1922, Scoville memenangi penghargaan Ebert dari Asosiasi Farmasi Amerika (American Pharmaceutical Association). Penghargaan itu diberikan atas prestasinya sebagai penulis terbaik dalam kaitan laporan penelitian yang orisinal mengenai substansi medis. Pada 1929 ia menerima Medali Kehormatan Remington (Remington Honor Medal). Scoville juga menerima doctor honoris causa dalam bidang ilmu pengetahuan dari Universitas Colombia.

Scoville menulis buku The Art of Compounding (Seni Mencampur) yang untuk pertama kali dipublikasikan pada 1895 dan terbit hingga delapan edisi. Buku tersebut dijadikan sebagai referensi bidang farmakologi hingga tahun 1960-an.

Scoville dengan sempurna menulis ulang buku Harry Becwith pada revisi keempat, How To Get Registered: Home Study for Pharmaceutical Students pada 1909. Scoville juga menulis buku Extract and Perfume (Ekstrak dan Parfum), yang berisi ratusan rumusan atau formula. Ia memenangi penghargaan dari the American Pharmaceutical Association (APhA). Sayang, buku-buku karangan Scoville termasuk kategori tak diminati.

Tidaklah mengherankan jika kemudian Scoville, kurang dikenal dibandingkan dengan pakar dan penemu dalam bidang lain. Sangat mungkin, hasil kajian dan temuannya dianggap kurang penting. Orang lebih tertarik pada hasil-hasil temuan terbaru dan tentu saja urusan perang (kala itu). (Rita Zahara, S.P., alumnus Fakultas Pertanian Unpad)***
Selengkapnya... »»

Senin, 22 Juni 2009

Kuasa Menyembuhkan atau Karunia Menyembuhkan?

Catatan : dalam membaca artikel ini, yang saya maksudkan dengan mujizat adalah pengertian mujizat pada umumnya.

Kadangkala umat Tuhan memandang sinis tentang kesembuhan. Khususnya dalam memandang dan memahami mujizat kesembuhan Illahi yang banyak terjadi dalam Kebaktian Kebangunan Rohani.
Kebanyakan mereka mempertanyakan, apakah mujizat yang dinyatakan dalam KKR tersebut, bukan hanya sebuah placebo, kesembuhan yang sembuh seketika tetapi sifatnya sementara akibat lonjakan atau luapan emosi sesaat, dan bukan benar-benar kesembuhan sejati dari Tuhan. Misalnya saja, di acara KKR yang meledak-ledak, banyak kesaksian kesembuhan, tetapi selanjutnya di hari yang sama ternyata yang bersaksi itu ikut maju lagi minta kesembuhan. Atau seseorang setelah bersaksi menerima kesembuhan, selang beberapa waktu kemudian sakit lagi. apakah mujizat Tuhan hanya berlaku sebentar, ataukah kesembuhan yang mereka terima hanyalah placebo?


Dalam beberapa hal saya setuju, sebaiknya kesembuhan harus dibuktikan secara medis. Misalnya, saat seseorang bersaksi disembuhkan dari penyakit dalam, maka haruslah dipastikan bahwa dalam catatan medisnya ia memang terkena penyakit yang dimaksud, dan selanjutnya harus dibuktikan dalam pemeriksaan medis, dan hasilnya adalah memang benar-benar sembuh. Hal ini bukan berarti tidak mempercayai mujizat kesembuhan, tetapi bila itu benar mujizat sejati, maka tidak perlu kuatir untuk diuji. Bukankah baik untuk mengetahui dirinya telah sembuh dari sisi medis? Kalau ada seorang pendeta mengatakan, kamu sudah sembuh, tidak usah cek medis lagi, jangan takut dan jangan goyah, cukup percaya saja, justru itu perlu diwaspadai. Iman memang tidak perlu melihat, tetapi kalau takut melihat hasil medis ya perlu dipertanyakan, apakah itu iman beneran? Ada juga yang hanya cari sensasi, menyatakan sembuh dari diabet, lalu ditunjukkan hasil cek-up-nya ternyata diabetnya sehat, karena memang ia tidak pernah sakit diabet dari awalnya, ia hanya sakit kegemukan. Hal-hal semacam inilah yang membuat beberapa orang menjadi sinis terhadap apa yang disebut dengan mujizat kesembuhan.

Umat beriman yang kritis ini terkadang juga mempermasalahkan tentang hamba Tuhan yang berkarya dalam mujizat kesembuhan. Mengapa kok manusia memerintah dan memaksakan suatu kesembuhan kepada Tuhan. Bukankah Tuhan tidak bisa diperintah? Menurut saya, dalam menyikapi hal ini kita mesti bijaksana. Keberadaan hamba-hamba Tuhan ini adalah sebagai orang yang membantu seseorang supaya bangkit imannya, dengan cara memperdengarkan Firman Allah. Tetapi mereka seharusnya tidak memerintah Tuhan. Karena Tuhan sendiri sudah menyediakan kesembuhan. Sudah menawarkan kesembuhan. Sudah menanggung segala penyakit kita. BilurNya menyembuhkan. Jadi, sebenarnya orang beriman hanya memohon dan selanjutnya menerima kesembuhan dengan iman. Tidak ada yang namanya memerintah Tuhan. Keberadaan hamba-hamba Tuhan hanya untuk membangkitkan iman umat Tuhan, dengan memperdengarkan Firman Allah, karena iman tumbuh dari pendengaran Firman. Ini seperti seorang anak yang memerlukan sesuatu dan memohon kepada ayahnya, kemudian yakin akan diberi, tanpa memaksa. Kalau tidak memohon kepada ayahnya, kepada siapa harus memohon, masa memohon pada ayah tetangga? Demikian juga kita, kalau tdak memohon kepada Bapa, kepada siapa kita memohon, apakah kepada pendeta?

Yang namanya kesembuhan, tidak harus seketika. Memang kalau sembuhnya seketika, itu menjadi sangat berkesan dan dinilai sebagai mujizat. Tetapi kalaupun sembuhnya berangsur-angsur, biasanya tidak dipahami sebagai mujizat, tetapi sebagai kesembuhan yang wajar, apalagi kalau disertai tindakan medis atau pengobatan. Namun kalau kesembuhan semacam itu terjadi terhadap suatu penyakit yang membawa mati dan tak mungkin sembuh secara kedokteran, apa itu bukan termasuk mujizat? Misalnya seseorang pekerja gereja terjatuh dari lantai 4 pada waktu bersih-bersih, secara medis tengkoraknya rusak, gegar otak, mata pecah, darah sudah dimana-mana. Semua dokter mengatakan, keluarkan saja dari ICCU, toh tidak akan tertolong. Kalau tertolongpun perlu mujizat, dan pasti cacat otak dan buta. Tetapi setelah ditunggu sekian hari, semua berangsur-angsur pulih (dokter hanya bisa menunggu dan tidak melakukan operasi, baru setelah kondisi membaik mereka berani melakukan operasi), dan sekarang sembuh tanpa cacat, tidak buta, tidak juga bodoh.
Tak dipungkiri di sisi sebaliknya, ada orang-orang yang secara ekstrem memandang mujizat adalah segala-galanya. Mereka memandang, suatu gereja atau KKR yang tidak ada terjadi mujizat, adalah gereja atau KKR yang tidak ada kuasa atau hadirat Tuhan. Ini suatu klaim yang tidak benar, karena dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Tuhan, Tuhan hadir. Orang-orang demikian memandang bahwa mujizat adalah merupakan sebuah keharusan. Sampai-sampai semua penyakit dianggap ada setannya dan ditengkinglah si setan pembawa penyakit.
Mujizat memang untuk meneguhkan dan mempertobatkan, menunjukkan kemuliaan Tuhan, tetapi gereja yang mengutamakan mujizat, serta bukannya mengutamakan Firman Tuhan, maka dikuatirkan kalau gereja tersebut tidak berakar dalam Firman, dan mudah goyah. Gereja yang benar bukan berjalan berdasarkan apa yang dilihat, tetapi berdasar Firman.
Tidak jarang gereja demikian akhirnya mengkultus individukan seseorang pengkotbah. Kalau bukan pengkotbah tersebut, maka jangan-jangan tidak bisa disembuhkan. Kalau bukan pengkotbah tersebut, jangan-jangan tidak ada mujizat. Wah-wah-wah, ini sudah salah kaprah.... yang punya kuasa kesembuhan itu bukan manusia, sehebat apapun rohaninya. Hanya Allah yang punya kuasa kesembuhan.
Orang beriman hanya mengalirkan kuasa tersebut. Diantara orang-orang beriman memang ada yang memperoleh suatu karunia Roh Kudus yang biasa disebut sebagai karunia menyembuhkan, tetapi hal itu tidak berarti ia mempunyai kuasa menyembuhkan. Namanya saja Karunia Roh Kudus, jadi itu miliknya Roh Kudus, Allah Tritunggal. Tuhanlah yang mempunyai dan memberikan kesembuhan pada seseorang. Setiap orang beriman bisa memperoleh kesembuhan Ilahi, kesembuhan yang benar-benar ajaib dari Allah. Sekalipun ada kekhususan, tetapi setiap orang beriman dapat dipakai Allah untuk menjadi saluran untuk membangkitkan iman dan kepercayaan seseorang sehingga ia bisa menerima kesembuhan Illahi. Dari mana seseorang mampu berbuat demikian? Dari Allah. Inilah karunia menyembuhkan.
Jadi Saudara yang sakit, jangan berharap seseorang akan menyembuhkanmu. Seorang pendeta kaliber internasional sekalipun, tidaklah mempunyai kuasa menyembuhkan. Berharaplah kepada Tuhan, sekalipun Anda tidak pernah bertemu pendeta kaliber internasional, tetapi Tuhan ada.
Mujizat itu pasti ada. Kadang kesembuhan. Kadang keuangan. Tetapi itu semua Tuhan yang bekerja, Dia bergerak sesuai iman kita. Kita tidak memaksa Tuhan, tetapi kita bersandar, memohon kepada Allah Bapa kita supaya kita memperoleh Kasih KaruniaNya, berkatNya, RahmatNya, MujizatNya, atau apapun Anda menyebutnya, seperti seorang anak meminta dan percaya kepada bapanya.
Selengkapnya... »»

Rabu, 20 Mei 2009

ARMINIAN ATAU CALVINIS?

Dari dulu aliran Calvin dengan aliran Arminian saling bertolak belakang, khususnya dalam hal predestinasi dengan kehendak bebas. Masing-masing memiliki keyakinan yang sama-sama mengklaim diri mempunyai dasar kebenaran Alkitabiah.

Forum-forum diskusi yang diharapkan dapat mencapai titik temu pemahaman keselamatan yang selaras dengan Alkitab, seringkali menjadi lahan pertempuran dan perbantahan. Akhirnya kedua aliran saling serang menyerang, dengan pendukungnya masing-masing, termasuk aliran-aliran turunan dari kedua aliran besar tersebut.

Kaum Arminian tidak dapat menerima paham Calvin khususnya mengenai keselamatan seseorang itu ditentukan Allah, dan mulai membeberkan kelemahan2 teori Calvin. Kaum Calvin membantah dan mengatakan serangan-serangan Arminian terhadap Calvinisme sama sekali tidak mendasar dan dipenuhi dengan ketidakpengertian kaum Arminian terhadap konsep aliran Calvin. Kemudian mereka berbalik menyerang dan membongkar kelemahan teori Arminian yang mengutamakan kehendak bebas manusia untuk memilih menerima keselamatan atau mengabaikan keselamatan. Seru sekali, masing-masing mempunyai ayat pembenar dan ayat penyerang. Ironis memang, Alkitab yang sama, ayat yang seharusnya saling sinkron dan tidak bertentangan satu sama lain, dalam sebuah buku yang paling sempurna, ternyata dipakai untuk saling menyerang.



Di satu sisi, adalah baik untuk saling memberitakan kebenaran (atau setidaknya apa yang dianggap benar), dengan tujuan saling mengingatkan. Kemudian saling menguji, dan akhirnya bisa memperoleh kebenaran yang paling hakiki dan Alkitabiah. Tetapi di sisi lain, perbantahan semacam ini bisa jadi akan merugikan para pihak, dan bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain, terutama karena adanya perasaan jumawa bahwa dirinya dan pahamnya masing-masing itulah yang paling benar, dan tidak jarang diskusi semacam ini dipenuhi dengan umpatan atau kata-kata kasar yang sama sekali tidak mencerminkan etika kekristenan.

Seseorang meninggal tanpa mau bertobat sama sekali sekalipun sudah mendengar kabar tentang Yesus Kristus. Menurut Calvinis, hal itu memang sudah ditentukan Tuhan, bahwa orang tersebut tidak terpilih. Tentang hal ini Arminian mengatakan, orang itu sendiri tidak mau memakai kesempatan untuk diselamatkan, dan ini karena kehendak bebas manusia untuk menerima atau menolak keselamatan. Tetapi, apa guna perbantahan ini, toh orang itu sama-sama meninggal dan tidak selamat.

Seseorang yang lain meninggal dalam suasana yang penuh damai dan dalam imannya kepada Yesus Kristus. Menurut Arminian, ini karena orang itu telah menerima keselamatan dari Tuhan dan tetap memelihara keselamatannya dengan baik. Menurut Calvinis, orang ini memang sudah ditentukan dan dipilih Allah untuk selamat. Mana yang benar, tidak ada masalah bukan? Toh orangnya meninggal dan diselamatkan.

Seorang lagi, pernah bertobat dan kemudian murtad, meninggalkan imannya hingga waktu meninggal. Menurut Calvinis, orang tersebut belum pernah selamat, pertobatannya memang sejak semula bukanlah suatu pertobatan yang sejati (kalau pertobatannya benar, pasti selamat, dan tidak akan murtad), jadi tidak terpilih untuk diselamatkan. Menurut Arminian, orang itu tidak selamat karena tidak memelihara keselamatannya, dan memilih kembali ke hidup lama, ke jalan lebar sebagai konsekuensi kehendak bebas manusia hingga akhirnya binasa.

Kurang lebih seperti itulah analisa dari masing-masing aliran terhadap kasus-kasus di atas. Menurut Anda, manakah yang benar? Menurut Anda, apakah pendapat-pendapat dari masing-masing aliran dalam menanggapi kasus-kasus di atas, AKAN IKUT MENENTUKAN KESELAMATAN DARI YANG BERSANGKUTAN? Saya kira tidak demikian.

Bukankah saat seseorang bertobat, ia sedang memperoleh anugerah keselamatan seperti diyakini oleh Calvinisme yang mementingkan anugerah? Apakah Arminian dapat menyangkal hal ini?

Dan ketika ia mulai hidup dalam kebenaran Firman, melakukan yang diperintahkan Firman dan menjauhi laranganNya, bukankah ia sedang bertumbuh dalam rohaninya, dan ia sedang memeliharakan keselamatannya, sebagaimana dimaksud oleh Arminian? Apakah kaum Calvinis setelah menerima anugerah keselamatan (baca : Yesus Kristus) kemudian tidak melakukan Firman Tuhan? Saya kira tidak demikian. Kesemuanya itu (ANUGERAH dan MELAKUKAN FIRMAN) perlu untuk menuju pada keselamatan kekal. 

Untuk orang-orang yang tidak selamat oleh karena pada akhir hidupnya ia tidak bertobat sungguh-sungguh, bukankah ia memang tidak memenuhi kualifikasi kaum terpilih dari Allah untuk turut menikmati kesukaan kekal, sebagaimana diungkapkan Calvinis, dan juga sekaligus ia memilih untuk tidak hidup dalam jalan sempit untuk memelihara keselamatannya sebagaimana diungkapkan Arminian?

Apakah dengan memegang prinsip sekali selamat tetap selamat dari Calvin kemudian berarti akan hidup sembarangan, serampangan? Tidak mungkin Calvin bermaksud demikian! (Memang bagi orang yang tidak sungguh-sungguh dan kurang berhikmat atau kurang menghargai pengorbanan Tuhan, pengajaran sekali selamat tetap selamat ini berbahaya, bisa disalahartikan sebagai alasan pembenar untuk berbuat menyimpang (berdosa), toh sekali selamat tetap selamat.)

Ataukah dengan memegang prinsip kehendak bebas Arminian kemudian berarti menempatkan keselamatan sebagai suatu usaha manusiawi dan menghilangkan besarnya anugerah keselamatan? Tidak demikian maksud dari Arminius! (Ajaran kehendak bebas ini berkaitan dengan pemeliharaan keselamatan, yang mengajarkan supaya manusia berbuat baik dalam mempertahankan keselamatannya, dan bagi sebagian orang disalah mengerti bahwa dengan perbuatan baik, manusia dapat selamat.)

Lalu bagaimana? Yang pasti, iman seseorang pada akhir hidupnya itu sangat menentukan. Karena itu jangan tinggalkan imanmu pada sang juru selamat dunia dan hiduplah menurut Firman Tuhan, tidak ada yang menentang hal-hal ini.

Dari uraian-uraian di atas, olehlah saya berkesimpulan bahwa kedua ajaran memiliki dasar keselamatan yang sama, yaitu di dalam Yesus Kristus atau bagi sebagian orang menyebut namaNya sebagai Yeshua Hamasiakh, dan sekalipun penafsiran atau penganalisaan terhadap keselamatan dari masing-masing kubu dapat membuat tanggapan atau reaksi yang berbeda pada orang-orang yang mendengarnya, tetapi yang lebih menentukan adalah keadaan iman pada akhir hidup seseorang, apapun itu alasan dan analisanya, Calvinis ataupun Arminian.

Memang sebagian orang, lebih suka untuk berbantah-bantah dan memaksakan prinsip bahwa perbedaan aliran itu menentukan sikap dan tindakan seseorang dalam merespon keselamatannya, sehingga penting menurut mereka untuk mengajarkan supaya memilih salah satu aliran.

Tidak ada pembelajaran yang sempurna, demikian juga tulisan ini, tetapi mari kita sama-sama terus untuk belajar. Menurut saya, paham apapun yang diyakini benar, asalkan kita telah menerima Yesus Kristus dan kemudian mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya, kita akan terpelihara dalam keselamatanNya. Semoga dapat menjadi berkat.

Out of Darkness

Selengkapnya... »»