Senin, 02 November 2009

HUMOR

THE PREACHER SAID:

'If I had all the beer in the world, I'd take it and throw it into the river''

And the congregation cried, 'Amen! '

'And if I had all the wine in the world, I'd take it and throw it in the river'

And the congregation cried, 'Amen!'

'And if I had all the whiskey and rum in the world, I'd take it all and throw it in the river'

Again the congregation cried, 'Amen!'

The Preacher sat down.

The deacon then stood up & said: 'For our closing hymn, let us turn to page 126 of our hymnals and sing: 'We shall drink from that River.'

THE CONGREGATION SCREAMED 'HALLELUYAAAAAA' !

Dari sebuah milis
Selengkapnya... »»

KISAH SEBUAH TAPLAK MEJA

Dari sebuah milis.

KISAH SEBUAH TAPLAK MEJA

This is a very beautiful story ...

Ini adalah cerita yang indah... yang akan membuatmu mengerti bahwa segala sesuatu terjadi untuk suatu alasan.

Seorang pendeta muda dan istrinya ditugaskan untuk membuka kembali sebuah gereja tua di daerah
pinggiran Brooklyn. Mereka tiba di daerah tersebut pada bulan Oktober dengan penuh semangat.
Ketika mereka melihat gereja tersebut, terlihatlah sebuah gereja yang sangat berantakan dan
membutuhkan banyak kerja keras. Mereka membuat target bahwa semua harus selesai diperbaiki dan siap digunakan untuk ibadah malam natal.

Mereka berdua bekerja keras, memperbaiki atap, memplester dinding, mengecatnya, dan segala hal lain
untuk membuat gereja tersebut dapat digunakan beribadah. Pada tanggal 18 Desember, gereja tersebut
sudah hampir selesai dan akan segera siap untuk digunakan. Pada tanggal 19 Desember, hujan yang
disertai angin kencang turun selama dua hari. Pada tanggal 21 Desember, pendeta tersebut segera
berangkat menuju gereja. Setibanya disana, hatinya sesak dan pedih melihat hasil kerjanya yang
hancur. Dia melihat kerusakan terbesarnya adalah atap yang jatuh dan mengakibatkan kerusakan pada
dinding gereja. Pendeta tersebut membereskan kekacauan di lantai dan tidak tahu apa yang harus
dilakukan selain menunda ibadah malam natal. Ia pun meninggalkan gereja menuju rumah.

Di perjalanan pulang, dia melihat sebuah bazar untuk amal, jadi ia turun dari mobilnya untuk singgah dan
melihat-lihat. Kemudian ia melihat sebuah taplak meja buatan tangan yang sangat indah dan ukurannya pas untuk menutupi kerusakan di gereja. Maka ia pun membeli taplak meja tersebut. Ia pun membeli taplak meja tersebut dan membawa mobilnya kembali ke gereja. Ketika tiba di depan gereja, ia melihat seorang wanita paruh baya yang sedang mengejar bus dan gagal! Salju mulai turun. Sang pendeta turun dari mobilnya dan mengajak wanita tersebut untuk masuk ke gereja untuk menunggu bus berikutnya yang akan datang 45 menit kemudian.

Wanita tersebut duduk, dan pendeta sibuk memasang taplak meja tersebut. Ketika selesai, wanita tersebut bertanya di manakah pendeta menemukan taplak meja tersebut.. Wanita tersebut kemudian bertanya apakah di ujung kanan ada inisial EBG, ternyata memang ada. Wanita tersebut bercerita
bahwa ia membuat taplak itu 35 tahun yang lalu di Austria. Wanita tersebut kemudian menceritakan
bahwa sebelum perang, ia dan suaminya memiliki keluarga yang bahagia. Kemudian Nazi datang dan
suaminya memaksanya pergi. Sang suami berencana untuk menyusulnya seminggu kemudian,
namun ternyata tertangkap. Dan mereka tidak pernah bertemu kembali.

Sang pendeta hendak mengembalikan taplak meja tersebut, mengingat besarnya kenangan yang dimiliki
taplak meja tersebut. Namun wanita tersebut menolaknya. Sebagai rasa terima kasih,
pendeta tersebut menawarkan untuk mengantarkan wanita tersebut ke apartemennya.

Tibalah hari Natal. Ibadahnya indah, semua penuh dengan semangat Natal. Pada akhir ibadah,
pendeta dan istrinya menyalami semua yang datang, dan mendengar banyak dari mereka akan datang
kembali ke gereja tersebut. Kemudian sang pendeta melihat seorang pria tua yang tetap duduk dan
memandangi taplak meja tersebut.

Sang pendeta mendekatinya, pria tua menanyakan di mana pendeta mendapatkan taplak tersebut.
Ia menceritakan kisah yang sama dengan yang telah didengar pendeta beberapa hari sebelumnya.
Pendeta kemudian berkata ia ingin mengajak pria tersebut sedikit berjalan-jalan. Ia mengemudikan
mobilnya menuju apartemen yang didatanginya beberapa hari sebelumnya. Ia membantu pria tersebut
menaiki tangga menuju lantai tiga dan pendeta mengetuk sebuah pintu.. Kemudia pendeta tersebut
menyaksikan sebuah reuni Natal terbaik yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.

Kisah Nyata - by Pastor Rob Reid
Selengkapnya... »»

*menari di tengah hujan*

Dari sebuah milis.
Mudah-mudahan Kisah Inspirasi ini dapat memberikan sesuatu pandangan tentang arti cinta.

*menari di tengah hujan*

Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria
berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di
ibu-jarinya. . Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya
menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru
dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.

Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah,
sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya. Aku merasa
kasihan. Jadi ketika sedang luang aku sempatkan untuk
memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering,
tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan
yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter,
aku putuskan untuk melakukannya sendiri..

Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya
janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu
menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untu makan siang
bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia
menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak
beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.

Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang
terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi
dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Aku sangat
terkejut dan berkata, “Dan Bapak masih pergi ke sana se tia
p hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?” Dia tersenyum
ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata, “Dia
memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia,
‘kan?”

Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tanganku
masih tetap merinding, “Cinta kasih seperti itulah yang aku
mau dalam hdupku.”

*Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis.
Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat
ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak
akan pernah terjadi.*

Bagiku pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting:

*Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala
sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik
dengan apa yang mereka miliki. “Hidup bukanlah perjuangan
menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di tengah
hujan.” *

Penulis : tidak diketahui.
Selengkapnya... »»

DUA KARUNG BERAS

Dari sebuah milis.

DUA KARUNG BERAS

Dua bersaudara bekerja bersama-sama di ladang milik keluarga mereka. Yang seorang telah menikah dan
memiliki sebuah keluarga besar. Yang lainnya masih lajang. Ketika hari mulai senja, kedua bersaudara itu
membagi sama rata hasil yang mereka peroleh.

Pada suatu hari, saudara yang masih lajang itu berpikir,"Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit."Karena itu, setiap malam ia mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di lumbung milik saudaranya.

Sementara itu, saudara yang telah menikah itu berpikir dalam hatinya,"Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku punya istri dan anak-anak yang akan merawatku di masa tua nanti, sedangkan saudaraku tidak memiliki siapa pun dan tidak seorang pun akan peduli padanya pada masa tuanya." Karena itu, setiap malam ia pun mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di lumbung milik saudara satu-satunya itu.

Selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu menyimpan rahasia itu masing-masing, sementara padi mereka sesungguhnya tidak pernah berkurang, hingga suatu malam keduanya bertemu, dan barulah saat itu mereka tahu apa yang telah terjadi. Mereka pun berpelukan.

Jangan biarkan persaudaraan rusak karena harta, justru pereratlah persaudaraan tanpa memusingkan harta.

Penulis : tidak diketahui
Selengkapnya... »»

APAKAH ANDA SEDANG TERJATUH...???

Lagi, Kisah inspirasi dari sebuah milis, yang mengingatkan kita betapa Tuhan bekerja dalam segala perkara untuk kebaikan.

APAKAH ANDA SEDANG TERJATUH...???

Dr. Lin Ting Tung adalah orang Taiwan pertama yang menjadi dokter dan menjadi kristen. Ini terjadi pada akhir abad ke-19. Ia bekerja di rumah sakit kecil yang dirintis oleh Dr. Maxwell, seorang misionaris Inggris.

Ketika itu tingkat kesehatan masyarakat di Taiwan sangat rendah dan cara pengobatan masih sangat sederhana. Pada suatu hari seorang anak datang ke rumah sakit itu dan meminta obat untuk ibunya yang sedang demam akibat malaria. Anak ini berjalan lebih dari dua jam dari desanya ke rumah sakit melalui jalan setapak melewati hutan dan sawah. Ketika nama ibunya dipanggil, anak ini langsung bangkit dari bangkunya, meraih botol obat dan bergegas pulang.

Sore harinya pukul lima, ketika kamar obat akan ditutup, seorang perawat tampak bingung dan berbisik, "Dokter Lin, botol obat untuk pasien malaria masih ada disini. Tetapi ada satu botol yang hilang. Isinya disinfektan.

Dr. Lin terkejut, diperiksanya botol yang tertinggal, benar isinya obat malaria. Jadi, anak tadi membawa botol yang salah! Botol-botol dikamar obat itu memang berbentuk sama dan berwarna sama lagipula, baik obat malaria maupun disinfektan sama-sama cairan. "Celaka kita. Ibu itu
bisa mati. Disinfektan itu obat keras pembunuh kuman untuk kamar operasi. Kalau sampai diminum, usus bisa terbakar dan orang itu akan mati" ujar Dr. Lin dengan wajah pucat.

Segera mereka melaporkan peristiwa ini kepada Dr. Maxwell. Ia juga terkejut. "Sekarang pukul lima, anak itu pergi dari sini pukul tiga jadi Ia sudah hampir tiba. Tidak mungkin kita mengejarnya. Kita tidak tahu jalan ke desa itu" ujar Dr. Maxwell.

Dr. Maxwell termenung. lalu ia berkata, "Mulai hari ini semua obat keras tidak boleh diletakkan diatas meja. Sekarang panggil semua karyawan untuk berkumpul. Kita akan berdo'a,"

Begitulah semua orang yang bekerja di rumah sakit itu berkumpul dan berdo'a. Dr. maxwell berdo'a, "Tuhan, telah kami membuat kecerobohan. Ampunilah kami. Nyawa seorang ibu sedang terancam. Tolonglah dia, cegahlah dia agar tidak meminum obat yang salah itu......"

Malam harinya Dr. Lin berdinas malam. Ia harus bertanggung jawab atas kematian ibu ini. Esok harinya, ketika masih subuh pintu diketuk. Ternyata itu anak yang kemarin membawa botol yang keliru. Mukanya pucat ketakutan. Dr. Lin juga takut. Kedua orang itu berdiri saling memandang dengan gugup.

Kemudian anak itu berkata, "Ma'af dokter. Kemarin saya bawa botol itu sambil berlari, lalu saya jatuh botol itu pecah dan isinya tumpah".

Dr. Lin yang masih terpaku karena gugup langsung bertanya, " Kapan Jatuhnya?"
Anak itu menjadi makin ketakutan, "Ma'af, dokter. Saya baru datang sekarang. Jatuhnya kemarin sore, menjelang gelap,"

Dr. Lin langsung ingat: Menjelang gelap....itu adalah saat ketika semua karyawan rumah sakit berkumpul mendo'akan ibu anak ini! Jiwa ibu anak ini tertolong, isi botol yang salah itu tidak sampai terminum, karena botol itu pecah ditengah jalan.

Kita bisa lihat peristiwa ini dari sudut si anak. Ia pulang membawa botol obat ini sambil berlari. Ia ingin cepat-cepat memberikan obat ini kepada ibunya. Ia ingin menunjukan baktinya kepada ibunya. Ia ingin ibunya cepat sembuh. Anak ini tidak mengetahui bahwa botol yang sedang dipegangnya berisi racun. Ia tidak bisa membaca tulisan dibotol itu. Ia buta huruf Anak ini berlari terus. Jalan dari desa ke rumah sakit di kota sangat jauh. Perginya dua jam, pulangnya dua jam. Ia letih. Lalu, tiba-tiba ia tersandung. Ia jatuh. Mungkin Ia terluka, tetapi yang paling celaka: Botolnya jatuh dan pecah, cairan isinya tumpah ditanah. Bayangkan bagaimana perasaan anak itu. Ia kecewa, sedih dan takut. Bagaimana kalau penyakit ibunya makin parah.

Bagaimana kalau dokter itu marah? Anak ini sangat terpukul oleh kejatuhan ini. Saat itu ia belum tahu bahwa justru terjatuhnya dia ini menolong nyawa ibunya. Mungkin orang lain akan tersenyum, "Ah, itu cuma kebetulan," namun orang percaya akan bersaksi, " Tuhan bisa bekerja melalui sebuah kebetulan," itulah juga kesaksian Rasul Paulus di Roma 8:28 ....Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia......."

"SEGALA SESUATU"
berarti segala keadaan atau segala kejadian, baik keberhasilan maupun kejatuhan.
Kejatuhan dapat berbentuk musibah, penyakit atau kegagalan.Seringkali kita mengira bahwa Allah hanya hadir dan bekerja dalam keberhasilan. Padahal Allah juga hadir dan bekerja dalam kejatuhan. Apa tujuan Allah bekerja dalam kejatuhan? Paulus menjawab, ".....untuk mendatangkan kebaikan.... .."

Jadi Tuhan dapat mendatangkan kebaikan melalui sebuah kejatuhan.

Copied by: Capt. Shadrach M. Nababan
Selengkapnya... »»

TUHAN YESUS, INI OWE, A CONG....

Kisah inspirasi ini dari email sebuah milis. Lucu, polos, tetapi berarti. Buat yang tahu sumber / penulis aslinya silakan memberitahukannya kepada kami lewat komentar.

TUHAN YESUS, INI OWE, A CONG....

Ini sebuah kisah nyata yang menarik dan menyentuh.

Ada seorang laki2 paruh baya, umur 50 tahunan. Ia dipanggil A Cong. Miskin harta, tetapi jujur dan tekun. Kejujuran dan ketekunan itu mendapat perhatian seorang pemilik toko material di daerah Glodok, Pinangsia, Jakarta. A Cong diangkat menjadi CEO (chief exec.officer) atau penanggungjawab penuh toko tersebut. Usaha material itu meraup sukses luar biasa.

Sedemikian sibuknya A Cong di toko itu melayani pembeli, sampai ia tak sempat makan dengan teratur. Bahkan tidak jarang ia makan sambil tetap melayani.

Tetapi, di tengah kesibukannya, setiap jam 12 siang ia menyempatkan diri berlari ke sebuah Gereja di dekat situ. Dan itu ia lakukan tiap hari, sudah lebih dari tiga setengah tahun.

Sampai pada suatu hari kecurigaan seorang pastor memuncak... ! Ia telah memperhatikan dan mengamati fenomena aneh ini di Gerejanya. A Cong datang di pintu Gereja, hanya berdiri saja, membuat tanda salib, lalu segera bablas lagi.

Ritual itu setia dilakukan A Cong, tiap-tiap hari, itu-itu saja. Adakah udang dibalik batu??? Jangan2 ..... Romo yang penasaran itu mencari kesempatan menghadang si A Cong, dan bertanya tanpa basa-basi lagi : Maaf, Cek (panggilan menghormat bagi laki2 Tionghoa), kenapa Encek saben hari datang jam 12 begini, cuman berdiri aja di pintu, bikin tanda salib, terus cepet2 pergi?" Kaget, si A Cong menjawab tersipu: "Hah?!... Lomo, owe ini olang sibuk, owe punya waktu seliki, tapi owe seneng dateng kemali."

Jelas, Romo belum puas dan terus mendesak: Emangnya apa yang Encek lakukan di pintu gereja gitu?"
Jawab A Cong dengan polos: "Ngga ada apa2. Benel Owe cuman bilang ini doang: Tuhan Yesus, ini owe, A Cong. Uuudah ."

Terbengong, hanya "Oh....!" yang bisa dilontarkan sang Romo. Dan A Cong pun bergegas kembali ke tokonya.

Pada suatu hari A Cong sakit parah karena super sibuk dan makan sekenanya, tidak teratur. Komplikasi penyakitnya cukup berat sehingga ia dilarikan ke rumah sakit. A Cong bukan orang kaya, maka ia menempati kamar kelas 3, satu kamar dihuni 8 orang pasien.

Sejak masuknya A Cong, kamar itu menjadi ceria, penuh canda tawa.Tak terasa 3 bulan sudah A Cong dirawat. Ia pun sembuh dan diperbolehkan pulang. Ia gembira, tentunya, tetapi teman2 sekamarnya bersedih. Selama dirawat itu, semua sesama pasien dihiburnya. A Cong setiap pagi menghampiri teman2
pasiennya, satu per satu, dan menanyakan keadaan masing2. Sayang, sekarang A Cong harus pulang dan kamar itu akan kembali sunyi.

Akhirnya salah seorang sesama pasien mencoba bertanya: "Eh, Cek A Cong, mau nanya nih. Kenapa sih Encek begitu gembira, dan selalu gembira, padahal penyakit Encek ' kan serius?" Acong tercenung dan menjawab" saben ali yam lua welas, yah, ada olang laki lambut gondlong dateng, megang kaki owe, dia
bilang: A Cong, ini aku, Yesus Kristus. Gimana owe nggak seneng, coba..."

Moral of the story :
Sesibuk-sibuknya kita, sisihkan waktumu, untuk selalu bersama Tuhan Yesus, ...
Matius 10:32 "Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga".
Selengkapnya... »»

Senin, 22 Juni 2009

Kuasa Menyembuhkan atau Karunia Menyembuhkan?

Catatan : dalam membaca artikel ini, yang saya maksudkan dengan mujizat adalah pengertian mujizat pada umumnya.

Kadangkala umat Tuhan memandang sinis tentang kesembuhan. Khususnya dalam memandang dan memahami mujizat kesembuhan Illahi yang banyak terjadi dalam Kebaktian Kebangunan Rohani.
Kebanyakan mereka mempertanyakan, apakah mujizat yang dinyatakan dalam KKR tersebut, bukan hanya sebuah placebo, kesembuhan yang sembuh seketika tetapi sifatnya sementara akibat lonjakan atau luapan emosi sesaat, dan bukan benar-benar kesembuhan sejati dari Tuhan. Misalnya saja, di acara KKR yang meledak-ledak, banyak kesaksian kesembuhan, tetapi selanjutnya di hari yang sama ternyata yang bersaksi itu ikut maju lagi minta kesembuhan. Atau seseorang setelah bersaksi menerima kesembuhan, selang beberapa waktu kemudian sakit lagi. apakah mujizat Tuhan hanya berlaku sebentar, ataukah kesembuhan yang mereka terima hanyalah placebo?


Dalam beberapa hal saya setuju, sebaiknya kesembuhan harus dibuktikan secara medis. Misalnya, saat seseorang bersaksi disembuhkan dari penyakit dalam, maka haruslah dipastikan bahwa dalam catatan medisnya ia memang terkena penyakit yang dimaksud, dan selanjutnya harus dibuktikan dalam pemeriksaan medis, dan hasilnya adalah memang benar-benar sembuh. Hal ini bukan berarti tidak mempercayai mujizat kesembuhan, tetapi bila itu benar mujizat sejati, maka tidak perlu kuatir untuk diuji. Bukankah baik untuk mengetahui dirinya telah sembuh dari sisi medis? Kalau ada seorang pendeta mengatakan, kamu sudah sembuh, tidak usah cek medis lagi, jangan takut dan jangan goyah, cukup percaya saja, justru itu perlu diwaspadai. Iman memang tidak perlu melihat, tetapi kalau takut melihat hasil medis ya perlu dipertanyakan, apakah itu iman beneran? Ada juga yang hanya cari sensasi, menyatakan sembuh dari diabet, lalu ditunjukkan hasil cek-up-nya ternyata diabetnya sehat, karena memang ia tidak pernah sakit diabet dari awalnya, ia hanya sakit kegemukan. Hal-hal semacam inilah yang membuat beberapa orang menjadi sinis terhadap apa yang disebut dengan mujizat kesembuhan.

Umat beriman yang kritis ini terkadang juga mempermasalahkan tentang hamba Tuhan yang berkarya dalam mujizat kesembuhan. Mengapa kok manusia memerintah dan memaksakan suatu kesembuhan kepada Tuhan. Bukankah Tuhan tidak bisa diperintah? Menurut saya, dalam menyikapi hal ini kita mesti bijaksana. Keberadaan hamba-hamba Tuhan ini adalah sebagai orang yang membantu seseorang supaya bangkit imannya, dengan cara memperdengarkan Firman Allah. Tetapi mereka seharusnya tidak memerintah Tuhan. Karena Tuhan sendiri sudah menyediakan kesembuhan. Sudah menawarkan kesembuhan. Sudah menanggung segala penyakit kita. BilurNya menyembuhkan. Jadi, sebenarnya orang beriman hanya memohon dan selanjutnya menerima kesembuhan dengan iman. Tidak ada yang namanya memerintah Tuhan. Keberadaan hamba-hamba Tuhan hanya untuk membangkitkan iman umat Tuhan, dengan memperdengarkan Firman Allah, karena iman tumbuh dari pendengaran Firman. Ini seperti seorang anak yang memerlukan sesuatu dan memohon kepada ayahnya, kemudian yakin akan diberi, tanpa memaksa. Kalau tidak memohon kepada ayahnya, kepada siapa harus memohon, masa memohon pada ayah tetangga? Demikian juga kita, kalau tdak memohon kepada Bapa, kepada siapa kita memohon, apakah kepada pendeta?

Yang namanya kesembuhan, tidak harus seketika. Memang kalau sembuhnya seketika, itu menjadi sangat berkesan dan dinilai sebagai mujizat. Tetapi kalaupun sembuhnya berangsur-angsur, biasanya tidak dipahami sebagai mujizat, tetapi sebagai kesembuhan yang wajar, apalagi kalau disertai tindakan medis atau pengobatan. Namun kalau kesembuhan semacam itu terjadi terhadap suatu penyakit yang membawa mati dan tak mungkin sembuh secara kedokteran, apa itu bukan termasuk mujizat? Misalnya seseorang pekerja gereja terjatuh dari lantai 4 pada waktu bersih-bersih, secara medis tengkoraknya rusak, gegar otak, mata pecah, darah sudah dimana-mana. Semua dokter mengatakan, keluarkan saja dari ICCU, toh tidak akan tertolong. Kalau tertolongpun perlu mujizat, dan pasti cacat otak dan buta. Tetapi setelah ditunggu sekian hari, semua berangsur-angsur pulih (dokter hanya bisa menunggu dan tidak melakukan operasi, baru setelah kondisi membaik mereka berani melakukan operasi), dan sekarang sembuh tanpa cacat, tidak buta, tidak juga bodoh.
Tak dipungkiri di sisi sebaliknya, ada orang-orang yang secara ekstrem memandang mujizat adalah segala-galanya. Mereka memandang, suatu gereja atau KKR yang tidak ada terjadi mujizat, adalah gereja atau KKR yang tidak ada kuasa atau hadirat Tuhan. Ini suatu klaim yang tidak benar, karena dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Tuhan, Tuhan hadir. Orang-orang demikian memandang bahwa mujizat adalah merupakan sebuah keharusan. Sampai-sampai semua penyakit dianggap ada setannya dan ditengkinglah si setan pembawa penyakit.
Mujizat memang untuk meneguhkan dan mempertobatkan, menunjukkan kemuliaan Tuhan, tetapi gereja yang mengutamakan mujizat, serta bukannya mengutamakan Firman Tuhan, maka dikuatirkan kalau gereja tersebut tidak berakar dalam Firman, dan mudah goyah. Gereja yang benar bukan berjalan berdasarkan apa yang dilihat, tetapi berdasar Firman.
Tidak jarang gereja demikian akhirnya mengkultus individukan seseorang pengkotbah. Kalau bukan pengkotbah tersebut, maka jangan-jangan tidak bisa disembuhkan. Kalau bukan pengkotbah tersebut, jangan-jangan tidak ada mujizat. Wah-wah-wah, ini sudah salah kaprah.... yang punya kuasa kesembuhan itu bukan manusia, sehebat apapun rohaninya. Hanya Allah yang punya kuasa kesembuhan.
Orang beriman hanya mengalirkan kuasa tersebut. Diantara orang-orang beriman memang ada yang memperoleh suatu karunia Roh Kudus yang biasa disebut sebagai karunia menyembuhkan, tetapi hal itu tidak berarti ia mempunyai kuasa menyembuhkan. Namanya saja Karunia Roh Kudus, jadi itu miliknya Roh Kudus, Allah Tritunggal. Tuhanlah yang mempunyai dan memberikan kesembuhan pada seseorang. Setiap orang beriman bisa memperoleh kesembuhan Ilahi, kesembuhan yang benar-benar ajaib dari Allah. Sekalipun ada kekhususan, tetapi setiap orang beriman dapat dipakai Allah untuk menjadi saluran untuk membangkitkan iman dan kepercayaan seseorang sehingga ia bisa menerima kesembuhan Illahi. Dari mana seseorang mampu berbuat demikian? Dari Allah. Inilah karunia menyembuhkan.
Jadi Saudara yang sakit, jangan berharap seseorang akan menyembuhkanmu. Seorang pendeta kaliber internasional sekalipun, tidaklah mempunyai kuasa menyembuhkan. Berharaplah kepada Tuhan, sekalipun Anda tidak pernah bertemu pendeta kaliber internasional, tetapi Tuhan ada.
Mujizat itu pasti ada. Kadang kesembuhan. Kadang keuangan. Tetapi itu semua Tuhan yang bekerja, Dia bergerak sesuai iman kita. Kita tidak memaksa Tuhan, tetapi kita bersandar, memohon kepada Allah Bapa kita supaya kita memperoleh Kasih KaruniaNya, berkatNya, RahmatNya, MujizatNya, atau apapun Anda menyebutnya, seperti seorang anak meminta dan percaya kepada bapanya.
Selengkapnya... »»